Tidak saya sangka, ternyata dipotret melelahkan juga. Tapi, mungkin Chacha lebih merasa capek lagi. Bagaimana tidak, dia lebih banyak dimake-up, baju yang lebih ribet, serta gerakan-gerakan yang kompleks apabila memakai busana perempuan.
Hasil foto belum jadi sampai posting ini ditulis. Jadi ceritanya, bisa dikatakan, sesi pengambilan foto ini juga agak mendadak. Sampai h-2, saya ditanya fotografer, “Mas, kapan foto?”. Saya hanya bisa menjawab, “mungkin lusa mas, antara tanggal sekian sampai sekian, soalnya saya belum tahu bisa ke situnya hari apa.” Memang pengambilan foto ini ada di luar kota (Surabaya), bukan kota tempat tinggal saya (Nganjuk). Jadi, saya berkehendak agar ada waktu istirahat setelah perjalanan. Dan setelah pertimbangan dan diskusi ini itu, jadilah kami berangkat menuju kota pemotretan, Surabaya, pada jam dini hari waktu Nganjuk. Menunggu Bus Patas tak kunjung datang, mungkin karena berkaitan kenaikan Bahan Bakar Minyak beberapa waktu sebelumnya, maka kami akhirnya naik Bus Ekonomi terkemuka yang cukup cepat. Walhasil, di dalam kami duduk misah, masing-masing di ujung tempat duduk, karena penduduk sebelumnya sudah tidur. Ini bisa menjadi kenangan sekaligus pelajaran di kemudian hari bahwa memang saya harus memperbaiki sifat-sifat mendadak ini, demi kenyamanan bersama. Untungnya, sampai Jombang, beberapa penumpang turun, dan ada satu deret kosong sehingga kami bisa duduk berdua dan tidur di bus dengan tidak khawatir jatuh. Adik saya, masih bertahan di tempat duduk semula. Dia juga ikut dalam ekspedisi pemotretan karena hendak sekalian berobat dan pada prakteknya, menjadi asisten segala hal selama pemotretan. Jadi, yang capek ada 3 orang, di samping tukang fotonya tentu saja.
Kami sampai Surabaya subuh, sehingga pemotretan (teorinya) bisa dimulai pagi. Pagi-pagi, fotografer dan perias datang, Chacha dirias, dan saya… baru (di)bangun(kan) tidur. Selama Chacha berkutat dengan soft lensenya, periasnya, dan busananya, saya masih mencari sabun saya ada di mana. Yah, saya loading agak lama kalau bangun pagi. Itulah sebabnya, saya sering bekerja malam. Selanjutnya, setelah semua beres, berangkatlah kamu ke lokasi pertama, sebuah hutan Ekowisata Mangrove. Tepat sekali, di Bosem Wonorejo. Kami pilih disini karena udaranya bersih dan banyak nuansa hijaunya dalam kota Surabaya. Detil pemotretan cukup banyak, nanti akan lebih jelas dari hasil-hasilnya. Rencana akan ditampilkan beberapa di hosting ini, sebagian lain hotlink ke flickr. Pemotretan ini terdapat hal-hal cukup unik. Diantaranya, air di hutan bakau ini sedang pasang, ada bagian yang menggenangi jembatan setapak sehingga kami harus lepas sepatu untuk lewat. Ini menimbulkan inspirasi bagi fotografer dalam pengambilan. Bisa jadi, filosofi fotonya adalah, kami bersama dalam keadaan susah maupun senang. Beberapa pose diambil disini, ada yang mudah, ada yang susah, ada juga yang harus menunggu orang pacaran selesai karena tentu saja kita tidak bisa mengusir mereka, “mas mbak, minggir dulu, saya mau potret”. Menunggu yang lama terjadi karena ada mbak-mbak yang tidur di pangkuan kekasihnya, di pinggir setapak, di bawah mangrove, saya tidak habis pikir, kenapa bisa sampai terkantuk-kantuk seperti itu. Tapi bisa jadi juga karena banyaknya oksigen disitu.
Setelah berbagai kuda-kuda dan jurus-jurus foto diambil, kami bermaksud hendak melanjutkan ke suasana building. Pilihan awal adalah ke kompleks perusahaan rokok terkemuka, namun saya ragu karena saya tidak menyukai bau tembakau lama-lama. Pilihan kedua ada di kafe, kamipun menuju ke lokasi. Dan, ternyata, tutup. Ada miskomunikasi memang, namun saya tidak banyak komplain, disamping karena mereka pada sabar, saya juga tidak mau merusak suasana dan mood. Jadi seperti biasa, kita cari solusi mendadak. Setalah mondar-mandir beberapa jalan, diskusi sana-sini selama beberapa waktu. Kamipun menuju suatu kafe yang berbentuk kastil abad pertengahan. Kamipun foto disini. Menurut saya, kastil ini cocok untuk pemotretan yang mendadak, busana dan perlengkapan sudah ada di sini. Banyak yang bisa dilakukan dalam pemotretan, nanti disambung lagi.
Alhamdulillah, satu checklist sudah dilakukan, akan dilanjutkan checklist-checklist selanjutnya.