Foto prewedding biasanya tidak terlepas dari hal-hal berpikir. Jadi teringat, jaman kuliah dulu, kawan-kawan pernah membahas pro-kontra mengenai kegiatan ini. Ada yang mempertentangkan dari segi agama, ada yang dari segi budaya, tak lupa juga mempertentangkan dari segi finansial. Saya tidaklah tertarik membahas pro-kontra semacam itu. Foto prewedding menurut saya merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan untuk sebuah dokumentasi bagi anak-cucu kelak, yakni alasan memori-historis. Yang ada di pikiran saya, suatu saat nanti tua, apabila melihat salah satu foto, biasanya akan teringat momen sebelum pengambilan, hal-hal lucu, hal-hal bodoh, atau apapun yang terjadi di sekitar momen itu. Mengingat hal ini, bagi saya bisa memperciki perasaan dengan tambahan bahan bakar api cinta. Atau bisa juga, saat ada pertengkaran, melihat foto ini bisa ibarat sebuah air yang memadamkan api emosi itu. Jadi menurut kami, foto prewedding akan banyak berguna kelak, bukan hanya sekadar alasan-alasan masa kini.
Jadilah kami melakukan beberapa pemilihan terhadap siapa yang akan memotret. Dan… kami bingung awalnya. Harus bagaimana, kepada siapa, yang paket apa, dan banyak pertanyaan-pertanyaan. Ditambah, saya biasanya sangat rewel terhadap para pemberi pruduk jasa. Tapi hal yang saya syukuri, Chacha senantiasa sabar menghadapi kelakuan saya ini. Ya walaupun mungkin ada keselnya :D, karena dalam menghadapi tukang service, saya banyak maunya, dan rewel 😀 Ini karena saya bisa dikatakan juga tukang service, pemberi jasa. Memang, untuk mendapat pelayanan yang baik, kita juga hendaknya menjadi pelanggan yang baik. Namun, tentunya perlu diperhatikan bahwa salah satu sifat pemberi jasa yang harus senantiasa dijunjung adalah sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa. Saya biasanya rewel jika menjumpai ada pemberi jasa yang tidak sabar, apapun bentuknya, bisa judes, jengkel saat saya banyak tanya, atau karena tak sabar karena saya sering bilang, “saya pikir dulu” saat ditawari suatu item jasa. Saya juga rewel saat pemberi jasa tidak jelas dalam bertransaksi, semacam ada yang ditutup-tutupi, atau memberikan suatu hidden price dalam pekerjaannya. Penjelasan yang tidak jelas, biasanya akan saya kejar dengan pertanyaan sampai saya jelas, itu juga kadang membuat pemberi jasa jadi kesal, dan kekesalan dia, membuat saya rewel dan kesal. Satu hal lagi yang kadang terjadi adalah penjual jasa yang mempunyai sifat memaksa atau mendikte. Mungkin pemberi jasa tidak secara literal memaksa, tapi dia seperti mempunyai sifat yang tak sabar yang terejawantah dengan kalimat-kalimat yang mendikte calon pelanggan, semacam memburu-buru, tidak memberi kesempatan berpikir, dan tidak mempunyai kesabaran menunggu. Hal-hal inilah yang biasanya membuat saya tidak jadi memakai jasa suatu pemberi jasa. Tampak rewelnya memang dan mungkin annoying saat waktu terbatas. Namun saya selalu percaya, bahwa masih ada pemberi jasa yang sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa.
Setelah menjelajahi banyak padepokan-padepokan, mengadakan banyak rapat pleno, akhirnya kami mendapatkan orang yang memenuhi kriteria di atas. Hasil-hasilnya akan kami tampilkan disini, dan apabila tukang jasanya berkenan, akan kami pasang juga identitasnya sebagai promosi dan rekemendasi kami pribadi karena sifat-sifat mereka yang baik sebagai pemberi jasa, selain juga kemampuannya yang mumpuni.