Judul ini sepintas seperti judul lagu. Atau semacam suatu judul tulisan orang galau mau curhat meratap-ratap. Bukan, tulisan kali ini bukanlah begitu. Lagipula, sudah bukan jamannya lagi bagi orang seusia saya membuat tulisan-tulisan ratapan menghiba-hiba seperti itu. Kali ini adalah suatu kisah mengenai saya yang sudah satu bulan bepergian. Iya, Juli 2013 ini, saya tidak pulang ke rumah, semacam jadi Bang Toyyib kalau di lagu yang nge-hits beberapa waktu lalu.
Kenapa saya tidak pulang? Bukan berarti saya minggat, ngambek, atau juga kabur. Melainkan karena pekerjaan saya memang mempunyai sistem days on – days off, alias beberapa waktu bekerja berurutan (termasuk Hari Sabtu, Minggu, Hari Raya Agama, Hari Raya Nasional, Hari Kejepit), lalu kemudian libur beberapa waktu berurutan (termasuk tanggal hitam, tanggal tua, tanggal muda) . Idealnya relatif tidak banyak saya masuk bekerja meninggalkan rumah, namun kali ini sudah satu bulan saya masih days on. Dan itu semua di tengah laut. Bukan curhat mengenai duka nestapa saat bekerja, tidak, saya tidak mengeluhkan pekerjaan saya. Saya hanya hendak sharing kesadaran saya, bahwa yang lebih susah dalam situasi ini justru adalah bukanlah saya, melainkan orang yang saya tinggalkan, yakni keluarga saya di rumah, apalagi Chacha.
Saya mahfum betul bahwa persiapan acara resepsi demikian hectic, tanpa kehadiran saya, bisa dikatakan ibarat kereta api kekurangan 1 roda. Mungkin bisa jalan, namun terasa ada yang kurang. Pembaca yang melakukan persiapan acara nikahan, tentunya paham benar mengenai hal ini. Mereka yang tidak LDR-pun biasanya akan mengalami fase-fase kepusingan sana-sini. Kemudian, yang tiap hari bisa tatap muka, juga bisa mengalami salah paham, apalagi yang hanya bisa bicara lewat telpon yang mana kadang-kadang sinyal mati-mati, ataupun sekitar berisik suara mesin. Itu membuat cerita tersendiri di masing-masing orang, begitupun saya, keluarga dan Chacha. Belum lagi jika ditambah saya harus masuk s0re-malam-pagi. Biasanya pembicaraan kurang efektif. Itupun belum ditambah kalau saya lagi ada problem dalam operasi di lapangan, pikiran nyambungnya kadang tidak maksimal. Namun, hal-hal tersebut bisa kami atasi, not a big deal. Hal demikian, bukanlah masalah dan tak lantas jadi dibesar-besarkan.
Tulisan inipun bukan membahas tentang itu. Hal-hal diatas bukanlah suatu problematika bagi kami. Itu hanyalah bumbu-bumbu dalam meracik kami menjadi suatu kombinasi yang maknyus. Lalu bertahan dari apa? Siapa yang bertahan?
Jawabnya ialah, saya bertahan menghadapi dunia lapangan yang agak sering ekstrim disini.
Seperti saya singgung sebelumnya, saya sering di lapangan, yang artinya tentu saja bukan lapangan sepakola yang penuh rumput itu atau lapangan basket yang di ruangan yang sejuk. Melainkan, saya memang tempatnya di luar sana mengurusi sumur-sumur penghasil gas/minyak bumi yang kebanyakan ada di tengah laut, rawa, hutan, kebun, ataupun pedesaan-pedesaan. Kadangkala, tidak ada atap diatasnya, kadangkala ada pohon-pohon, macan, babi hutan, laut semua di sekeliling, angin saja yang terasa, dan penampakan-pengrasaan lainnya. Hal yang pertama bisa kita simpulkan dari uraian tersebut adalah masuk angin. Ya, tipikal kerjaan ini rawan sekali terkena paparan angin, matahari, dan asap. Sehingga perlulah kita bertahan menghadapi cuaca-cuaca ekstrim dan kondisi yang menghebohkan. Inilah inti daripada judul diatas. Bukan artikel galau, melainkan artikel kesehatan.
Untuk bertahan menghadapi keadaan di atas pertama-tama, tentunya semua sudah memahami bahwasanya kita perlu obat-obatan, baik itu obat pencegah, maupun obat pengobat. Chacha membekali dalam tiap pengembaraan saya dengan sepertangkat obat berikut secarik manual petunjuk apa-apa yang harus saya minum jika kenapa-kenapa. Ini karena dia mengetahui bahwa saya memang rada pelupa dalam mengingat beberapa hal, salah satunya obat A gunanya untuk B. Semacam ini


Diatas adalah obat-obat untuk mengobati pusing kalau ada problem, sakit perut kalau kokinya kurang bersahabat dengan perut saya, pereda perut kalau saya dihajar pedas, pereda nyeri kalau terantuk besi misalnya, mengurangi efek asam laktat, juga termasuk obat-obat untuk menjaga gizi vitamin saya karena saya pemilih dalam hal makanan.

Kemudian, sebagai penikmat teh, saya pun dibekali dengan teh kesukaan saya, Teh Dilmah aneka rasa, sehingga bisa mengurangi rasa bosan saya mabuk laut atau mabuk angin. Seperti kita bisa baca, teh merupakan antioksidan yang menyehatkan.

Diatas adalah beberapa tips bagaimana menghadapi suasana lapangan yang tak tentu. Tentunya yang tak kalah pentingnya ialah doa dari keluarga, Chacha, dan orang – orang yang senang dengan saya, yang berada jauh, agar pulang dengan selamat. Semoga days off saya segera tiba, karena sebentar lagi akan lebaran.