Setelah sebelumnya gagal ber-determinasi menjurnalkan bulan per bulan persiapan pernikahan, sekarang saya bertekad untuk menjurnalkan cerita kehamilan saya.
Mengapa harus dibuatkan jurnal publik?
Karena saya punya keinginan terpendam buat ngartis. Bukan. Karena sejenak setelah mengetahui kalau saya berbadan dua, saya merasa sendirian. Saya nggak tau mau ngomong apa dan sama siapa. Saya suka membaca blog mengenai perkembangan kehamilan orang lain yang sayangnya lebih banyak dibikin sama bule. Detail sekali penulisannya. Minggu per minggu, bahkan. Mungkin ada ibu ibu yang nasibnya kayak saya tapi apes karena ga paham bahasa Inggris, kan.
Sebelumnya, sedikit ringkasan dari rumah tangga mini saya. Saya tinggal di Balikpapan. Ibukota Kalimantan Timur. Suami saya bekerja di lepas pantai dengan jadwal kerja 20 hari di alam liar dan 10 hari di rumah.
Kami menikah pada tanggal 31 Agustus 2013. Jadi pada Desember ini kami baru empat bulan menikah.
Bulan November pertengahan saya jatuh sakit. Sakit pilek. Hehe.. Saya merasa dalam seminggu terakhir, badan saya lemeees. Hanya nyapu rumah saja sudah bikin ngos-ngosan. Saya punya firasat (campur keinginan terpendam) bahwa saya hamil. Yaa saya pikir kalau nggak hamil saya pasti amnesia anemia.
Tapi, saya skeptis. Ditambah juga saya lupa HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir. Digunakan untuk menghitung umur kehamilan.) saya. Serius deh istri macam apa saya yang katanya menantikan hamil tapi perlu sekertaris pribadi buat nulis tanggal-tanggal penting.
Setelah beberapa hari mengalami keletihan yang nggak umum itu, saya ke apotik beli test pack merk OneMed (tiga biji karena sangat murah) dan 10 tablet Sangobion.
Lalu sepulangnya saya terkapar karena kelelahan dan demam.
Keesokan paginya, setelah menggerutu karena demam semalaman dan nggak berani minum obat karena takut sedang hamil, saya coba pakai test pack.
Wow. Ternyata muncul garis dua. Tapi yang satunya samar.
Saya nanya ke teman saya yang pernah hamil, kata dia itu berarti hamil. Yaiyalaaaaaaahyaaaaa…
Tapi saya nggak percaya. Kata hati yang terucap adalah, “Yang bener aja, saya lagi sakit, tempo hari habis kerja rodi, seminggu ini saya jajan mulu makan micin, saya absen minum Prenagen Esensis selama seminggu.” dan kalimat-kalimat histerikal lainnya.
Untuk menambah drama, saya bingung, kasih tau suami pas sudah pulang (dengan ekspektasi melihat wajah suami berseri-seri, saling memandang penuh cinta kayak pasangan RDJ – Susan Downey di balkon dan diiringi kembang api) atau saat itu juga (dengan ekspektasi sinyal teleponnya putus-putus pasti repot deh ceritanya akhirnya saya bete sendiri).
Setelah fase euforia (dalam hati dan sendirian) selesai, saya nelfon suami saya. Yang sedang ada di alam liar.
Si Suami sih nadanya sok cool. Tapi ujungnya malah dia yang sebar-sebar cerita duluan.
Setelah browsing mengenai cara pemakaian test pack OneMed yang benar, saya mengulang tesnya sampai 2 kali. Harusnya dengan merk yang berbeda ya. Ah peduli amat tapi.
Begitulah awalnya. Selamat sembilan bulan tanpa dilep buat saya!
