Kejadian yang entah kenapa saya sebel adalah kalau ketemu manusia yang bertanya dengan muka excited “Gimana? Sudah isi? Berapa bulan? Gimana rasanya?” Kemudian saya menjawab dengan muka datar dan jawaban-jawaban pendek, “Udah. Dua.”. Kemudian wajah manusia penanya semakin cerah, mata berbinar, mengulurkan tangan ke perut saya untuk mengelus sambil berkata “Alhamdulillah…”
Saya merasa sedang dieksploitasi.
Ish rasanya pingin saya pegang balik perutnya, saya angkat ke udara, dan saya putar-putar.
Nggak ada yang salah sih ya sama pertanyaannya. Tapi nggak tau kenapa rasanya sensi.
Umur: 12 minggu
Berat badan: 50 kg
Keluhan pagi hari: lemas dan mual, tapi sudah berkurang intensitasnya.
Keluhan malam hari: perut masih sensasional kembungnya ditambah dengan tenggorokan saya panas. Kalau saya baca-baca itu heartburn namanya. Kondisi dimana asam lambung saya naik ke tenggorokan, gitu lah gampangnya. Pernah saya terbangun jam 3 pagi cuma untuk memuntahkan asam lambung.
USG: keuntungan melakukan USG di bapak saya sendiri adalah bisa pilih “pose janin” untuk di-print. Dibanding minggu-minggu sebelumnya, minggu ini yang paling menyenangkan. Karena ternyata janinnya sudah bisa menggerakkan tangan dan memantul-mantul (kalau lompat kan pakai kaki ya). Sudah bisa dilihat tungkai, jari-jari, telinga, dan mulut. Di foto sebelah kiri adalah gambaran kepala janin yang dilihat dari atas. Di sebelah kanan adalah gambaran janin yang sedang gigit jempol. Ahaha apa sih bahasanya. Cuteee sekali!! Perlu beberapa kali “jepret” sebelum kami memutuskan kalau foto yang ini yang layak untuk naik cetak.
Keinginan makan: (masih) es krim, sushi (kalau yang ini nggak pernah nggak pingin), dan bakso yang pernah lewat di depan rumah mama mertua.
Bikin mual: selama di Nganjuk saya nggak pernah pegang kerjaan rumah tangga. Jadi gosok gigi adalah satu-satunya yang bikin mual.
Kegiatan favorit: jajan, jalan-jalan, tiduran. Bawaan bayi apa memang sifat emaknya, masih misteri.
Vitamin yang diminum: Calmin AF

1 Comment
aku membayangkan diriku kalo mengalami masa kehamilan yang bikin “malas” (entah malas beneran/jadi-jadian) di rumah mertua, bisa dijadiin bumbu Rendang kaya’nya, semuanya pasti serba salah, gabole gini, gabole gitu, gabole makan ini, harus makan itu. pasti dimasakin sayur-mayur tiap hari. arrrrgh…..
sepertinya keluarga kecil saya benar-benar harus membelah dari dari kehidupan ibu mertua sebelum akhirnya memutuskan untuk hamil. hahaha