Blog Maintenance: Njajal Foto Lagi

Hai!

Hari ini ada dua hal besar yang terjadi.

Pertama, saya bisa bikin foto yang bisa berganti saat disenggol sama mouse. Mm jadi efeknya nggak kelihatan di handphone dan tablet ya.

12

Wow wow wow senang sekali! Tapi saya nggak ngerti masalah CSS. Jadi nggak tau apa foto-senggol di atas bisa berfungsi untuk semua browser.

Kedua, CD foto prewedding saya barusan datang!

Foto-fotonya masih saya sortir untuk kemudian diedit sama fotografernya dan diprint. Satu lembar dengan ukuran 20RS dan 4 lembar dengan ukuran 12RS. Daaan saya barusan baca, 20RS berarti 50cm x 75cm di dunia nyata, serta 12RS berarti 30cm x 45cm.

Masalah yang mungkin timbul:

“Setelah ini mau dikemanakan fotonya???”

Gede banget lho. Sebesar poster Westlife yang dulu saya tempel di dinding.

Dan belum foto nikahnya.

Sekian.

 

Continue Reading

Eksekusi Pemotretan Prewedding

Tidak saya sangka, ternyata dipotret melelahkan juga. Tapi, mungkin Chacha lebih merasa capek lagi. Bagaimana tidak, dia lebih banyak dimake-up, baju yang lebih ribet, serta gerakan-gerakan yang kompleks apabila memakai busana perempuan.

Hasil foto belum jadi sampai posting ini ditulis. Jadi ceritanya, bisa dikatakan, sesi pengambilan foto ini juga agak mendadak. Sampai h-2, saya ditanya fotografer, “Mas, kapan foto?”. Saya hanya bisa menjawab, “mungkin lusa mas, antara tanggal sekian sampai sekian, soalnya saya belum tahu bisa ke situnya hari apa.” Memang pengambilan foto ini ada di luar kota (Surabaya), bukan kota tempat tinggal saya (Nganjuk). Jadi, saya berkehendak agar ada waktu istirahat setelah perjalanan. Dan setelah pertimbangan dan diskusi ini itu, jadilah kami berangkat menuju kota pemotretan, Surabaya, pada jam dini hari waktu Nganjuk. Menunggu Bus Patas tak kunjung datang, mungkin karena berkaitan kenaikan Bahan Bakar Minyak beberapa waktu sebelumnya, maka kami akhirnya naik Bus Ekonomi terkemuka yang cukup cepat. Walhasil, di dalam kami duduk misah, masing-masing di ujung tempat duduk, karena penduduk sebelumnya sudah tidur. Ini bisa menjadi kenangan sekaligus pelajaran di kemudian hari bahwa memang saya harus memperbaiki sifat-sifat mendadak ini, demi kenyamanan bersama. Untungnya, sampai Jombang, beberapa penumpang turun, dan ada satu deret kosong sehingga kami bisa duduk berdua dan tidur di bus dengan tidak khawatir jatuh. Adik saya, masih bertahan di tempat duduk semula. Dia juga ikut dalam ekspedisi pemotretan karena hendak sekalian berobat dan pada prakteknya, menjadi asisten segala hal selama pemotretan. Jadi, yang capek ada 3 orang, di samping tukang fotonya tentu saja.

Kami sampai Surabaya subuh, sehingga pemotretan (teorinya) bisa dimulai pagi. Pagi-pagi, fotografer dan perias datang, Chacha dirias, dan saya… baru (di)bangun(kan) tidur. Selama Chacha berkutat dengan soft lensenya, periasnya, dan busananya, saya masih mencari sabun saya ada di mana. Yah, saya loading agak lama kalau bangun pagi. Itulah sebabnya, saya sering bekerja malam. Selanjutnya, setelah semua beres, berangkatlah kamu ke lokasi pertama, sebuah hutan Ekowisata Mangrove. Tepat sekali, di Bosem Wonorejo. Kami pilih disini karena udaranya bersih dan banyak nuansa hijaunya dalam kota Surabaya. Detil pemotretan cukup banyak, nanti akan lebih jelas dari hasil-hasilnya. Rencana akan ditampilkan beberapa di hosting ini, sebagian lain hotlink ke flickr. Pemotretan ini terdapat hal-hal cukup unik. Diantaranya, air di hutan bakau ini sedang pasang, ada bagian yang menggenangi jembatan setapak sehingga kami harus lepas sepatu untuk lewat. Ini menimbulkan inspirasi bagi fotografer dalam pengambilan. Bisa jadi, filosofi fotonya adalah, kami bersama dalam keadaan susah maupun senang. Beberapa pose diambil disini, ada yang mudah, ada yang susah, ada juga yang harus menunggu orang pacaran selesai karena tentu saja kita tidak bisa mengusir mereka, “mas mbak, minggir dulu, saya mau potret”. Menunggu yang lama terjadi karena ada mbak-mbak yang tidur di pangkuan kekasihnya, di pinggir setapak, di bawah mangrove, saya tidak habis pikir, kenapa bisa sampai terkantuk-kantuk seperti itu. Tapi bisa jadi juga karena banyaknya oksigen disitu.

Setelah berbagai kuda-kuda dan jurus-jurus foto diambil, kami bermaksud hendak melanjutkan ke suasana building. Pilihan awal adalah ke kompleks perusahaan rokok terkemuka, namun saya ragu karena saya tidak menyukai bau tembakau lama-lama. Pilihan kedua ada di kafe, kamipun menuju ke lokasi. Dan, ternyata, tutup. Ada miskomunikasi memang, namun saya tidak banyak komplain, disamping karena mereka pada sabar, saya juga tidak mau merusak suasana dan mood. Jadi seperti biasa, kita cari solusi mendadak. Setalah mondar-mandir beberapa jalan, diskusi sana-sini selama beberapa waktu. Kamipun menuju suatu kafe yang berbentuk kastil abad pertengahan. Kamipun foto disini. Menurut saya, kastil ini cocok untuk pemotretan yang mendadak, busana dan perlengkapan sudah ada di sini. Banyak yang bisa dilakukan dalam pemotretan, nanti disambung lagi.

Alhamdulillah, satu checklist sudah dilakukan, akan dilanjutkan checklist-checklist selanjutnya.

Continue Reading

Memilih Potret Prewedding

Foto prewedding biasanya tidak terlepas dari hal-hal berpikir. Jadi teringat, jaman kuliah dulu, kawan-kawan pernah membahas pro-kontra mengenai kegiatan ini. Ada yang mempertentangkan dari segi agama, ada yang dari segi budaya, tak lupa juga mempertentangkan dari segi finansial. Saya tidaklah tertarik membahas pro-kontra semacam itu. Foto prewedding menurut saya merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan untuk sebuah dokumentasi bagi anak-cucu kelak, yakni alasan memori-historis. Yang ada di pikiran saya, suatu saat nanti tua, apabila melihat salah satu foto, biasanya akan teringat momen sebelum pengambilan, hal-hal lucu, hal-hal bodoh, atau apapun yang terjadi di sekitar momen itu. Mengingat hal ini, bagi saya bisa memperciki perasaan dengan tambahan bahan bakar api cinta. Atau bisa juga, saat ada pertengkaran, melihat foto ini bisa ibarat sebuah air yang memadamkan api emosi itu. Jadi menurut kami, foto prewedding akan banyak berguna kelak, bukan hanya sekadar alasan-alasan masa kini.

Jadilah kami melakukan beberapa pemilihan terhadap siapa yang akan memotret. Dan… kami bingung awalnya. Harus bagaimana, kepada siapa, yang paket apa, dan banyak pertanyaan-pertanyaan. Ditambah, saya biasanya sangat rewel terhadap para pemberi pruduk jasa. Tapi hal yang saya syukuri, Chacha senantiasa sabar menghadapi kelakuan saya ini. Ya walaupun mungkin ada keselnya :D, karena dalam menghadapi tukang service, saya banyak maunya, dan rewel 😀 Ini karena saya bisa dikatakan juga tukang service, pemberi jasa. Memang, untuk mendapat pelayanan yang baik, kita juga hendaknya menjadi pelanggan yang baik. Namun, tentunya perlu diperhatikan bahwa salah satu sifat pemberi jasa yang harus senantiasa dijunjung adalah sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa. Saya biasanya rewel jika menjumpai ada pemberi jasa yang tidak sabar, apapun bentuknya, bisa judes, jengkel saat saya banyak tanya, atau karena tak sabar karena saya sering bilang, “saya pikir dulu” saat ditawari suatu item jasa. Saya juga rewel saat pemberi jasa tidak jelas dalam bertransaksi, semacam ada yang ditutup-tutupi, atau memberikan suatu hidden price dalam pekerjaannya. Penjelasan yang tidak jelas, biasanya akan saya kejar dengan pertanyaan sampai saya jelas, itu juga kadang membuat pemberi jasa jadi kesal, dan kekesalan dia, membuat saya rewel dan kesal. Satu hal lagi yang kadang terjadi adalah penjual jasa yang mempunyai sifat memaksa atau mendikte. Mungkin pemberi jasa tidak secara literal memaksa, tapi dia seperti mempunyai sifat yang tak sabar yang terejawantah dengan kalimat-kalimat yang mendikte calon pelanggan, semacam memburu-buru, tidak memberi kesempatan berpikir, dan tidak mempunyai kesabaran menunggu. Hal-hal inilah yang biasanya membuat saya tidak jadi memakai jasa suatu pemberi jasa. Tampak rewelnya memang dan mungkin annoying saat waktu terbatas. Namun saya selalu percaya, bahwa masih ada pemberi jasa yang sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa.

Setelah menjelajahi banyak padepokan-padepokan, mengadakan banyak rapat pleno, akhirnya kami mendapatkan orang yang memenuhi kriteria di atas. Hasil-hasilnya akan kami tampilkan disini, dan apabila tukang jasanya berkenan, akan kami pasang juga identitasnya sebagai promosi dan rekemendasi kami pribadi karena sifat-sifat mereka yang baik sebagai pemberi jasa, selain juga kemampuannya yang mumpuni.

Continue Reading