Minggu Ke-tigapuluhtujuh

Ya,

Seperti sebagian kebiasaan saya, “mendadak”. Seperti inilah posting ini. Tiba-tiba, perlu kiranya menulis postingan yang melompat ke minggu tiga puluh tujuh. Berbagai aktifitas dalam kurun waktu dua puluh minggu terakhir sangatlah beragam. Mulai mengurus pot-pot bunga, memecah buah kelapa memakai pisau lalu menumbuk ala Baboon, membeli persiapan buah hati, ngurus urusan rutin, belajar ilmu baru, juga ditambah aktivitas di pekerjaan yang mana kadang tidak terprediksi. Plus, ditambah akhir-akhir ini saya sering berkutat dalam posting politik dadakan jelang pilpres, membuat penulisan di blog ini menurun.

Minggu 13 – 36 barangkali sudah ditulis Chacha secara offline dalam draft di laptopnya. Sayangnya, saat ini laptop kesayangannya masuk bengkel HP (bukan singkatan dari HandPhone) yang mana belum juga sempat mengambil karena waktu yang juga tidak sinkron antara waktu yang tersedia dan jam buka toko. Tadinya hari ini ada waktu, namun kami kedatangan tukan AC yang datang saat listrik padam, jadi molor karena alat cucinya juga memakai listrik. Tidak mengapa, semoga besok bisa diambil.

Draft-draft editan foto di laptop saya juga bertumpuk dengan paperwork kantor dan ebook pelajaran baru sehingga yang terjadi justru terbengkalai. Hal yang saya rasakan sebagai calon bapak tentunya senang. Efek samping yang saya rasakan jadi pelupa beberapa hal lain. Tidak mengapa, yang penting kelupaan itu teralihkan pada kefokusan hal besar yang akan datang.

Barangkali setelah buah hati hadir (aamin), Insyaallah akan saya upadate secara lebih tertib dan berkesinambungan. Mohon doa dari rekan-rekan semoga persalinan lancar dan sehat bagi istri dan bayi saya.

Continue Reading

Minggu Keduabelas

mg 12

Kejadian yang entah kenapa saya sebel adalah kalau ketemu manusia yang bertanya dengan muka excited “Gimana? Sudah isi? Berapa bulan? Gimana rasanya?” Kemudian saya menjawab dengan muka datar dan jawaban-jawaban pendek, “Udah. Dua.”. Kemudian wajah manusia penanya semakin cerah, mata berbinar, mengulurkan tangan ke perut saya untuk mengelus sambil berkata “Alhamdulillah…”

Saya merasa sedang dieksploitasi.

Ish rasanya pingin saya pegang balik perutnya, saya angkat ke udara, dan saya putar-putar.

Nggak ada yang salah sih ya sama pertanyaannya. Tapi nggak tau kenapa rasanya sensi.

Umur: 12 minggu
Berat badan: 50 kg

Keluhan pagi hari: lemas dan mual, tapi sudah berkurang intensitasnya.

Keluhan malam hari: perut masih sensasional kembungnya ditambah dengan tenggorokan saya panas. Kalau saya baca-baca itu heartburn namanya. Kondisi dimana asam lambung saya naik ke tenggorokan, gitu lah gampangnya. Pernah saya terbangun jam 3 pagi cuma untuk memuntahkan asam lambung.

USG: keuntungan melakukan USG di bapak saya sendiri adalah bisa pilih “pose janin” untuk di-print. Dibanding minggu-minggu sebelumnya, minggu ini yang paling menyenangkan. Karena ternyata janinnya sudah bisa menggerakkan tangan dan memantul-mantul (kalau lompat kan pakai kaki ya). Sudah bisa dilihat tungkai, jari-jari, telinga, dan mulut. Di foto sebelah kiri adalah gambaran kepala janin yang dilihat dari atas. Di sebelah kanan adalah gambaran janin yang sedang gigit jempol. Ahaha apa sih bahasanya. Cuteee sekali!! Perlu beberapa kali “jepret” sebelum kami memutuskan kalau foto yang ini yang layak untuk naik cetak.

Keinginan makan: (masih) es krim, sushi (kalau yang ini nggak pernah nggak pingin), dan bakso yang pernah lewat di depan rumah mama mertua.

Bikin mual: selama di Nganjuk saya nggak pernah pegang kerjaan rumah tangga. Jadi gosok gigi adalah satu-satunya yang bikin mual.

Kegiatan favorit: jajan, jalan-jalan, tiduran. Bawaan bayi apa memang sifat emaknya, masih misteri.

Vitamin yang diminum: Calmin AF

Continue Reading

Minggu Ketujuh (Bulan Kedua)

mg 7

Di minggu ini saya akhirnya menyerah pada ketidakberdayaan saya. Hehehe.. Saya akhirnya pulang kampung perdana ke Jawa. HORE! Segala rencana yang melibatkan kata Surabaya dan tidak-memasak bagaikan hujan di tengah Sahara.

Idealnya kegiatan naik pesawat dilakukan pada trimester kedua. Tapi saya nanya bapak saya katanya nggak papa pokoknya nggak ada keluhan selama ini (padahal keluhan sih banyak ya, namanya juga manusia tukang ngeluh). Oleh pak dokter saya yang di Balikpapan saya diresepin Duphaston yang isinya turunan progesteron.

Sampai di Surabaya kami langsung ke stasiun Gubeng. Buat beli tiket kereta dan nitipin koper.

Saat take off dan landing ditambah jalan geronjalan ternyata lumayan bikin perut kerasa kram. Jadi hal pertama yang kepikir selain makan di Sushi Tei adalah beli korset. Nah satu-satunya tempat yang mengandung Tei dan korset dan dekat dengan stasiun adalah Tunjungan Plaza. Hahaha.. Jadilah saya hambur-hambur uang di Mothercare buat beli korset yang untungnya kena diskon 50%.

Korset hamil ini bentuknya semacam sabuk elastis yang ditaruh di perut bagian bawah yang tujuannya buat menyangga perut. Sehingga bisa mengurangi “guncangan” lemak pada saat berjalan dan naik kendaraan.

Umur: 7 minggu
Berat badan: 47 kg

Keluhan pagi hari: masih terasa sangat-sangat lemas, kadang mual yang bertambah parah saat sikat gigi, nggak kuat duduk dan berdiri lama-lama. Ohya, tipsnya supaya nggak muntah adalah makan sedikit-sedikit. Saya hanya makan kurang dari setengah dari porsi yang saya biasa makan. Dengan porsi kerupuk 2 kali lipat dari biasanya. Saya juga suka nyemil biskuit bayi karena menurut saya nggak eneg.

Keluhan malam hari: susah tidur karena perut rasanya terlalu aneh. Gabungan antara kembung dan seperti ditarik-tarik. Saya dan minyak cap Kapak mengikat janji setia di bulan ini. Bahwa dia akan selalu mengisi malam-malam saya sebagai olesan perut. Ajaib, padahal sebelumnya perut saya alergi dengan segala jenis minyak.

USG: bulan kemarin ditemukan dua kantong di perut saya, sedihnya ternyata kantong yang berkembang cuma satu. Serius deh sedih. Saya mikirin salahnya dimana kasian banget nasib kantong yang satunya 🙁 Minggu ini bisa dilihat detak jantung janin. Seperti notifikasi Blackberry. Kelap-kelip. Hehehe..

Keinginan makan: es krim! Rekornya saya makan 3 stik es krim dalam sehari. Favorit saya es krim smoothies-nya Walls. Saking fanatiknya meskipun diluar sedang hujan badai, tangan tetep pegang es krim.

Bikin mual: masih seputaran pekerjaan feminin seperti mencuci piring, memasak, membuka kulkas. Akibatnya suami saya yang cuci piring, baik hati ya dia 🙂

Kegiatan favorit: duduk manis dan tiduran.

vitamin yang diminum: Vomilat dan Duphaston saat sedang bepergian.

Continue Reading

Preambule

373

Setelah sebelumnya gagal ber-determinasi menjurnalkan bulan per bulan persiapan pernikahan, sekarang saya bertekad untuk menjurnalkan cerita kehamilan saya.

Mengapa harus dibuatkan jurnal publik?
Karena saya punya keinginan terpendam buat ngartis. Bukan. Karena sejenak setelah mengetahui kalau saya berbadan dua, saya merasa sendirian. Saya nggak tau mau ngomong apa dan sama siapa. Saya suka membaca blog mengenai perkembangan kehamilan orang lain yang sayangnya lebih banyak dibikin sama bule. Detail sekali penulisannya. Minggu per minggu, bahkan. Mungkin ada ibu ibu yang nasibnya kayak saya tapi apes karena ga paham bahasa Inggris, kan.

Sebelumnya, sedikit ringkasan dari rumah tangga mini saya. Saya tinggal di Balikpapan. Ibukota Kalimantan Timur. Suami saya bekerja di lepas pantai dengan jadwal kerja 20 hari di alam liar dan 10 hari di rumah.

Kami menikah pada tanggal 31 Agustus 2013. Jadi pada Desember ini kami baru empat bulan menikah.

Bulan November pertengahan saya jatuh sakit. Sakit pilek. Hehe.. Saya merasa dalam seminggu terakhir, badan saya lemeees. Hanya nyapu rumah saja sudah bikin ngos-ngosan. Saya punya firasat (campur keinginan terpendam) bahwa saya hamil. Yaa saya pikir kalau nggak hamil saya pasti amnesia anemia.

Tapi, saya skeptis. Ditambah juga saya lupa HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir. Digunakan untuk menghitung umur kehamilan.) saya. Serius deh istri macam apa saya yang katanya menantikan hamil tapi perlu sekertaris pribadi buat nulis tanggal-tanggal penting.

Setelah beberapa hari mengalami keletihan yang nggak umum itu, saya ke apotik beli test pack merk OneMed (tiga biji karena sangat murah) dan 10 tablet Sangobion.

Lalu sepulangnya saya terkapar karena kelelahan dan demam.

Keesokan paginya, setelah menggerutu karena demam semalaman dan nggak berani minum obat karena takut sedang hamil, saya coba pakai test pack.

Wow. Ternyata muncul garis dua. Tapi yang satunya samar.

Saya nanya ke teman saya yang pernah hamil, kata dia itu berarti hamil. Yaiyalaaaaaaahyaaaaa…

Tapi saya nggak percaya. Kata hati yang terucap adalah, “Yang bener aja, saya lagi sakit, tempo hari habis kerja rodi, seminggu ini saya jajan mulu makan micin, saya absen minum Prenagen Esensis selama seminggu.” dan kalimat-kalimat histerikal lainnya.

Untuk menambah drama, saya bingung, kasih tau suami pas sudah pulang (dengan ekspektasi melihat wajah suami berseri-seri, saling memandang penuh cinta kayak pasangan RDJ – Susan Downey di balkon dan diiringi kembang api) atau saat itu juga (dengan ekspektasi sinyal teleponnya putus-putus pasti repot deh ceritanya akhirnya saya bete sendiri).

Setelah fase euforia (dalam hati dan sendirian) selesai, saya nelfon suami saya. Yang sedang ada di alam liar.

Si Suami sih nadanya sok cool. Tapi ujungnya malah dia yang sebar-sebar cerita duluan.

Setelah browsing mengenai cara pemakaian test pack OneMed yang benar, saya mengulang tesnya sampai 2 kali. Harusnya dengan merk yang berbeda ya. Ah peduli amat tapi.

Begitulah awalnya. Selamat sembilan bulan tanpa dilep buat saya!

Continue Reading