H-27: Menara Kardus

44

Setelah sekian lama menanti, akhirnya sampai juga saya dengan selamat di bulan Agustus. Bulan yang menjadi saksi atas penyatuan dua insan manusia yang tengah dimabuk cinta. Ngooook!

Saya menutup bulan Juli kemarin dengan acara kelupaan nggak menghadiri Suscatin yang diselenggarakan oleh KUA setempat.

Suscatin? Kursus Calon Pengantin.

Semacam seminar yang katanya sih, diwajibkan oleh Presiden Republik Indonesia untuk dihadiri setiap pasangan sebelum menikah. Pasangan lho yaa, bukan datang sendiri-sendiri, apalagi datang sama orangtua. Naasnya di acara tadi cuma saya dan pasangan saya yang bolos. Tuh taat peraturan sekali kan warga negara Kabupaten Nganjuk ini…

Tapi untungnya ada Suscatin susulan yang bisa diadakan secara privat di KUA maupun di rumah.

IMG_3060

Efek samping dari setiap pernikahan yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah penuhnya rumah. Apalagi kemarin souvenir saya datang. Jadilah pojok rumah saya berubah jadi semacam gudang supermarket dengan bangunan kardus pencakar langit yang isinya souvenir resepsi.

Soal souvenir resepsiĀ  ini ada curhatan panjang di baliknya.

Jadi ceritanya, saat berjalan-jalan ke Solo, saya iseng mampir ke toko souvenir di daerah Nonongan yang berinisial V. Maksud saya untuk mencari souvenir yang tidak mainstream dengan harga yang miring.

Setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan kalau souvenirnya adalah wadah dengan bahan gerabah berbentuk daun, berwarna ijo. Wadah apa? Di contohnya sih wadah sabun, tetapi orangtua saya kepinginnya dibuat wadah-terserah-sesuai-keinginan-pemakai. Tuh kan repot.

Setelah proses down payment yang besarannya lumayanlah-bisa-buat-beli-handphone-meskipun-bukan-iPhone, kami pulang dengan angan-angan dua bulan lagi souvenirnya jadi.

Tetapi seiring dengan segala rupa kesibukan, souvenir-pun terlupakan dari pikiran saya. Hingga akhirnya Juli lalu sang pemilik toko menghubungi saya via BBM dan menunjukkan foto hasil souvenirnya.

Dor!

Ternyata hasilnya nggak sama. *lalu pembaca membatin, “Terus guweh mesti bilang wow gituh?”*

vs

Setelah bermuram durja ngamuk-ngamuk ke yang punya vendor tadi, saya lalu kebingungan cari pengganti souvenir.

Teman saya pun menyarankan untuk mencoba bikin souvenir di tempat yang dulu dia bikin.

Untung beribu untuung, vendor tadi mau menerima pesanan souvenir saya yang memang waktunya sudah mepet sekali. Konsekuensinya, souvenirnya isinya jadi beragam: nggak bisa pilih motif, dan bentuknya jadi ada dua macam.

IMG_3065

Itu tuh barangnya. Yang kanan lebih besar dari yang kiri.

Packingnya bagus, kemasannya rapi, pitanya bertuliskan nama kami *ya iyalah masak nama pak Presiden* dan bunganya nggak mainstream seperti bunga yang sering saya temui pada packing kemasan lainnya. Well done lah. Poinnya 9 dari 10. Karena ada beberapa mug yang nggak kinclong.

Souvenir ini saya pesan di

Tupai Art & Souvenir Centre
Ruko Mangga Dua B1 No.8
Jagir Wonokromo Surabaya
(031) 847-1774

 

Continue Reading

Ungu Undanganku

PGS dan JMP sepertinya adalah tempat yang wajib dikunjungi oleh para calon pengantin. Kalau ada yang sering check-in Foursquare di salah satu tempat tadi, bisa dipastikan kalau dia mau kawin.

Saya sampai bosan pergi ke sana. Perihal mengantar teman-teman yang mau kawin, sampai membeli kain seragam untuk saudara yang tidak kunjung rampung.

Kemarin saya pergi ke PGS lagi (mudah-mudahan untuk yang terakhir kalinya di tahun ini, Amin) tujuannya adalah mengambil undangan.

Yeiyy! Akhirnya dari semua down payment yang dibayar sudah ada yang memiliki wujud!

P1070358Edit

Begitulah wujudnya.

Nggak heboh karena undangan yang heboh ternyata harganya mahal.

Nggak ada fotonya karena nggak mau muka saya berakhir di tempat sampah.

Undangannya saya pesan di Trikarta, Pusat Grosir Surabaya lantai I. Menurut saya undangan di sana cantik-cantik desainnya dan pengerjaannya cepat. Dijadwalkan undangan saya jadi pada akhir Juli tetapi ternyata akhir Juni kemarin sudah bisa diambil. Kerapian poinnya 7 dari 10. Yaa namanya juga produksi massal. Harganya menurut saya juga sesuai dengan barangnya. Dan yang penting nggak ada salah cetak. Saya sampai ngimpi, di undangan bukan tertulis nama saya dan Pacar melainkan nama pasangan lain.

Saran saya, kalau membeli undangan lebih baik langsung ke percetakannya. Kayak di PGS nih, biasanya kan toko-toko yang jual souvenir tuh menjual undangan juga, nah kata orang-orang lebih murah kalau membeli di percetakannya langsung.

Menurut saya penting juga untuk memilih vendor berdasar pendapat orang. Misalnya, saya tahu Trikarta ini dari teman saya. Dan saya juga pernah dikirimi undangan yang dibuat sama si Trikarta ini. Jadi ya, kita lebih bisa memprediksi seperti apa hasilnya, rapi atau tidaknya.

Last but not least, hal-hal cantik seperti emboss, huruf silver, gold, kertas timbul, bungkus mika, itu menambah biaya. Tuh kan, dimana-mana beauty is pain!

Continue Reading