Hello (Bukan Judul Lagu Adele)

Hai semuanya!

Ini adalah postingan yang menandai bahwa saya (lagi-lagi) berjanji untuk menulis dengan lebih tertib. Masih segar dalam ingatan saya (padahal habis ngelirik blog) bahwa postingan terakhir kali adalah ketika hari-hari persalinan saya menjelang. Banyak yang terjadi setelahnya. Misalnya:

Sekarang Rana sedang ngefans sama Hello Kitty, Barbie, Sofia the First, dan Larva.

Sekarang status saya jadi mahasiswa lagi.

Sekarang saya tinggal di Jogja. Sedihnya MASIH berstatus LDR sama suami saya yang MASIH ketinggalan di Balikpapan.

Sekarang saya berubah menjadi beauty junkie (BOHONG !!!)

Sekarang saya tergabung di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) cabang Kaltim.

Sekarang saya harus pakai kacamata, silinder. Jadi kebiasaan membaca sambil tidur dalam cahaya remang-remang tidak boleh disalahkan :p

 

Lalu apa lagi ya… Hahaha. Ternyata setelah dibuat resume mentok segitu aja.

Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin saya bagikan, semoga bermanfaat dan bukannya malah menjadikan tersesat. Sampai jumpa (BACA: Rana mulai bangun gara-gara suara keyboard laptop).

 

 

Continue Reading

Minggu Ke-tigapuluhtujuh

Ya,

Seperti sebagian kebiasaan saya, “mendadak”. Seperti inilah posting ini. Tiba-tiba, perlu kiranya menulis postingan yang melompat ke minggu tiga puluh tujuh. Berbagai aktifitas dalam kurun waktu dua puluh minggu terakhir sangatlah beragam. Mulai mengurus pot-pot bunga, memecah buah kelapa memakai pisau lalu menumbuk ala Baboon, membeli persiapan buah hati, ngurus urusan rutin, belajar ilmu baru, juga ditambah aktivitas di pekerjaan yang mana kadang tidak terprediksi. Plus, ditambah akhir-akhir ini saya sering berkutat dalam posting politik dadakan jelang pilpres, membuat penulisan di blog ini menurun.

Minggu 13 – 36 barangkali sudah ditulis Chacha secara offline dalam draft di laptopnya. Sayangnya, saat ini laptop kesayangannya masuk bengkel HP (bukan singkatan dari HandPhone) yang mana belum juga sempat mengambil karena waktu yang juga tidak sinkron antara waktu yang tersedia dan jam buka toko. Tadinya hari ini ada waktu, namun kami kedatangan tukan AC yang datang saat listrik padam, jadi molor karena alat cucinya juga memakai listrik. Tidak mengapa, semoga besok bisa diambil.

Draft-draft editan foto di laptop saya juga bertumpuk dengan paperwork kantor dan ebook pelajaran baru sehingga yang terjadi justru terbengkalai. Hal yang saya rasakan sebagai calon bapak tentunya senang. Efek samping yang saya rasakan jadi pelupa beberapa hal lain. Tidak mengapa, yang penting kelupaan itu teralihkan pada kefokusan hal besar yang akan datang.

Barangkali setelah buah hati hadir (aamin), Insyaallah akan saya upadate secara lebih tertib dan berkesinambungan. Mohon doa dari rekan-rekan semoga persalinan lancar dan sehat bagi istri dan bayi saya.

Continue Reading

Minggu Keempat (Bulan Pertama)

mg 4

Sebelum hamil dulu saya nggak habis pikir, kenapa umur kehamilan mesti dihitung berdasarkan minggu dan bukan bulan. Ketika menanyai orang-orang hamil pun pertanyaan saya selalu “Berapa bulan?” dan seringkali dijawab dengan “Sekian minggu.” kemudian meninggalkan saya dengan perhitungan matematika ini-berapa-bulan-angka-pembaginya-empat-apa-lima.

Tetapi setelah saya ngalami hamil sendiri, otomatis saya bertanya ke orang yang senasib dengan format waktu minggu. Dan saya jadi bingung kalau ditanyai dalam format bulan.

Apa nggak susah mengingat-ingat sudah berapa minggunya?
Ooh tentu saja saya sering sekali lupa. Sering saya jawab kira-kira.

Sebenarnya jembatan keledainya gampang. Sering-sering buka aplikasi kehamilan di gadget anda. Kan ada tuh disitu umurnya.

Di minggu ini saya akhirnya USG perdana. Di ruang tunggu, saya satu-satunya pasien yang punya perut paling rata dan bisa duduk sambil menyilangkan kaki. Ya iyalah lainnya perutnya sudah segede semangka.

Kesimpulan:
Umur: 4 minggu
Berat badan: 46 kg (menurut timbangan Rumah Sakit lho ini)

Keluhan pagi hari: mual, lemas. Beruntung saya nggak gampang muntah. Cuma hoek-hoek tapi saya muntah hanya sekali-dua kali saja. Tapi rasanya lemassssss sekali. Setiap bangun tidur mesti nggak bisa langsung bangun. Beruntung suami saya baiiiik sekali. Saya ditungguin terus dan dibikinkan teh hangat tiap pagi.

Keluhan malam hari: perut saya rasanya kayak orang lagi dismenorrhea / dilep. Kayak mau mens tapi nggak mens. Jadi kalau mau tidur pasti melewati fase gelisah dulu.

USG: dari gambaran USG-nya kelihatan ada dua kantong. Kata dokternya ada kemungkinan kembar. Tapi untuk memastikannya dilihat lagi bulan depannya, kantongnya ada isinya semua apa nggak. Suami saya hepi sekali. Langsung deh keluar Rumah Sakit berasa kayak J.Lo sama Marc Anthony yang punya bayi kembar.

Keinginan makan: perlu diingat, saya punya banyak sekali keinginan makan. Apalagi sejak tinggal di Balikpapan. Hhh rasanya selalu keingat sama makanan-makanan Surabaya. Jadi sulit sekali untuk dibedakan mana yang ngidam mana yang rakus.

Bikin mual: mencuci piring, membuka kulkas, bau suami habis pulang kerja, bau uleg-uleg, memasak.

Kegiatan favorit: nggak ada. Bahkan berdiri ngantri di kasir bikin lemas.

Vitamin yang diminum: Vomilat

Continue Reading

Episode Bulan Madu

Tadi pagi saya bangun dan menemukan surat cinta dari suami di nahkas saya.

Blog5
Saya sekarang sedang berada di Bandung menemani suami training serius yang ada ujiannya di akhir acara sehingga harus belajar. Sebelumnya saya menghabiskan sebulan di Balikpapan dan sebelumnya lagi seminggu di Bali. Iya, destinasi bulan madu saya ada di Bali.

Banyaaaak sekali yang jadi pertimbangan dalam berbulan madu karena lagi-lagi kami kehabisan waktu. Tanggal 31 Agustus kami melangsungkan akad nikah dan resepsi, tanggal 4 September kami melangsungkan acara ngunduh mantu dan baru 3 hari setelahnya kami bisa pergi berdua.

Ketika eyang saya tahu saya mengambil paket bulan madu ke Bali, responnya cuma satu, “Kok nggak ke luar negri?” Kata eyang saya cupu kalau bulan madu cuma antar kota luar propinsi. Tapi yaa saya sudah nggak sempat mikir keren-nggak keren, mending lah ketimbang nggak bulan madu blas.

Blog1

Saya dan suami memang sengaja mengambil paket honeymoon. Tepatnya saya yang mengusulkan, beliau yang mengiyakan dan mengurus semua-muanya. Bridezilla always win the game, sodara-sodara..

Saya sendiri menyadur ide sepupu saya, yaitu untuk mengambil paket honeymoon melalui situs Weddingku. Setelah sempat melirik paket Maldives sedangkan suami kepingin banget ambil paket South Korea karena dia berharap bisa ketemu SNSD terus foto bareng dan berharap ditawari (tapi jelaslah nggak mungkin), maka diputuskanlah untuk ambil hotel yang lokasinya di Nusa Dua. Awalnya kebimbangan sempat terjadi karena si calon hotel yang mau kita pilih nggak punya pantai di belakang hotelnya.

Akhirnya ditetapkanlah kita mau menginap di The Hill Villas di Nusa Dua.

Perjalanan ke sana? Kayak dikejar babi hutan laper.

Kami berangkat dari Nganjuk pagi buta naik kereta Arjuna, setelah sampai di Surabaya hal yang dilakukan adalah menulisi nama di kontainer yang akan dikirim via ekspedisi ke Balikpapan. Karena planningnya sepulang dari Bali kami langsung membuka lembaran baru di Balikpapan. Hore! Ucapan para tamu terkabul, Selamat Menempuh Hidup Baru.

Setelah kangen-kangenan sama Surabaya selama sekejap mata, kami berdua mengejar pesawat dengan naik taksi. Setelah itu langsung boarding dan langsung terbang. Bye babi hutan…

 Blog3

Sampai di Ngurah Rai airport kami dijemput oleh pihak hotel dan langsung diantar ke hotel ya jelas lah masak mau diantar pulang lagi. Awalnya saya sempat pesimis waktu mobil jemputannya belok di jalan kecil. “Waduh dibujuki ini, gimana kalau ternyata hotelnya cuman kayak homestay.”, pikir saya.

Tapi begitu masuk villa-nya saya cukup terkesan (apalagi kalau membandingkan dengan jalan masuknya).

The Hill ini ternyata sebuah hotel yang ukurannya kecil. Isinya ada 9 villa yang masing-masing konsepnya private. Jadi semua service diberikan di dalam villa. Mulai dari kolam renang sampai dengan spa, semua tinggal angkat telfon, tanpa perlu angkat bokong. Keren sekali kan, apalagi untuk manten males kayak saya.

 Blog2

Malam pertama kami habiskan dengan candlelight dinner di dalam villa. Hore!! Nggak usah ganti baju!! Menyenangkan sekali rasanya, setelah segala rupa kepenatan selesai, saya dan suami cuma berdua makan di pinggir kolam, dengan suasana tenang dan sangat beradab. Dunia benar-benar milik kami berdua (dan butler yang mengantar-jemput makanan).

Blog4

Malam kedua kami habiskan di Jimbaran. Karena badan masih capek bawaan kerja rodi kawinan, pikiran saya sudah pingin balik aja, tiduran di balai-balai sambil menemani suami download aplikasi. Hari berikutnya kami makan siang di Pa-on Nusa Dua karena dapat voucher gratisan. Hehehe. Tempatnya di tepi Benoa yang sayangnya bernuansa Jawa. Lhaaa saya ini orang Jawa jauh-jauh ke Bali malah lihat dokar sama becak.

Di hari terakhir, kami pijet. Tempatnya ya di balai-balai villa. Baru bangun tidur, sarapan diantar ke villa, selesai sarapan terapisnya datang. Nikmat sekali. Semacam exorcism arwah jahat bridezilla dari dalam tubuh saya lah. Setelah itu kami checkout dan pindah hotel di Kuta.

Hotel apakah? Tune Hotels Kuta. Jangan dilihat cupunya. Lihat sisi positifnya. Karena kami cari hotel termurah yang terdekat dengan pantai Kuta.

Kamarnya nggak bisa dibandingkan dengan hotel bulan madu utama lho ya. Tapi di bulan madu yg ekstensi ini kami nyewa motor. Dan enaknya persewaan motor, travel ke NgurahRai semua tersedia di hotel (dengan biaya tambahan). Berbekal GoogleMaps saya dan suami malah kemana-mana. Motor kami sewa sehari dengan harga Rp. 50.000-, Dalam semalam saya pergi ke Krisna cari oleh-oleh, menikmati sunset (yang ternyata lebih bagus daripada di Jimbaran), makan di Beach Walk dan bonus nyasar di Legian yang makin-sempit-gangnya-makin-meriah-barnya dan yang sexy-dancer-bar-nya-kelihatan-dari-jalan.

Keesokan harinya kami terbang menuju Balikpapan. Rumah saya yang baru. Liburan sudah selesai sodara-sodara, saatnya menghadapi dunia orang dewasa!

Continue Reading

Puisi Rindu Seorang Engineer

Telapak tangan baru saja kubersihkan
Lumpur, oli, dan minyak hilanglah sudah
Kuraih handphone untuk membaca pesan istriku
Kubaca duduk di ujung rig berlindung dari angin laut menderu

“Aku ngantuk, mungkin tidur, nanti telepon saja kalau mau, tidak apa-apa”
Begitu pesan istriku, saat dia menungguku saatku tadi bekerja.
Kulihat penunjuk waktu sudah lewat tengah malam
Kukira dia sudah terlelap dalam tidur tak ingin kuganggu.

Seketika lamunanku tertuju padanya
Membayangkan tiap hari menungguku sendiri di rumah
Sibuk mengurus ini itu saat aku tidur di siang.
Menunggu aku selesai bekerja di waktu malam.

Pagi dan petang kami bercakap, itupun sering sebentar.

Sabar Sayang,
Pagi ini kutelepon.
Akupun rindu pulang padamu.
Sabar, semua persiapanku adalah untukmu.

(24 Sep 2013, Rig Hibiscus, SAPI Field.)

Continue Reading

Resume Sekitaran Hari H

Hari H, H disini bukanlah “Hilang”. Kami tidak menghilang, hanya tidak sempat saja. H disini adalah kombinasi “Hore” dan “Heboh”. Bagaimana tidak, setelah H-3, bisa dikatakan waktu menulis sangatlah langka, untuk duduk upload gambar ke instagram saja sulit. Hal ini disebabkan banyaknya persiapan ini itu pada bagian finishing. Kesibukan tentunya lebih banyak di rumah Chacha, karena acara pertama ada di sana. Sedangkan di saya, seputaran hari H adalah persiapan-persiapan sosial kemasyarakatan dan persaudaraan. Menyiapkan agar persiapan keberangkatan haji mempelai pria tepat waktu sehingga tidak membuat khawatir banyak orang.

Pada H-1, saya kedatangan kawan seperjuangan saya, Alief, jauh-jauh dari Jakarta. Seperti masa silam, kamipun menempuh perjalanan untuk ngopi ala wonge dewe. Alief memesan kopi jahe dan karena besok acara besar, saya tidak memesan kopi, melainkan jahe panas, hitung-hitung sebagai penambah tenaga. Walaupun tanpa kafein, ternyata jahe membuat saya terjaga sampai jam 2 malam, jam 4 saya dibangunkan ibu karena perias sudah datang. Mungkin ini juga efek akibat beberapa hari sebelumnya saya shift malam terus di laut. Semua khawatir saya akan mengantuk pas acara siangnya, kemudianpun saya mendapatkan secangkir kopi panas.
Alhamdulillah, acara berlangsung lancar jaya.

Saat tulisan ini saya ketik, foto-foto dari kamera saya masih dibawa adik saya, foto dari fotografer belum jadi, seperti biasa, detil dan gambar akan disusulkan.
Malamnya, untuk ngeblogpun juga tidak sempat, besoknya juga tak sempat, lusanya juga tidak sempat, dan keesokannya kami mempersiapkan acara H+4, yakni ngunduh mantu. Seperti acara pertama, kami bangun pagi-pagi untuk dirias, saya bangun agak telat karena perias telat datang. Seperti sebelumnya, alhamdulillah, lancar jaya juga.
Malam ngunduh mantu kami tidak sempat ngeblog karena masih ada acara karaoke di depan rumah. Walau kami tidak menyanyi, kami ikut begadang menemani tamu dan saudara. Jadi malamnya tidak sempat ngeblog, besoknya juga tidak sempat ngeblog, lusanya pun juga. Mengapa banyak tidak sempat barangkali akan dijelaskan detil di lain waktu dikarenakan beberapa memerlukan edit agar blog ini bisa dibaca semua kalangan usia. Dan keesokannya kami bersiap untuk jalan-jalan ke pulau sebelah, Bali. Waktu packing membuat tidak sempat membuat blog.

Tadinya, saya berencana menulis sembari bersantai di pantai, namun agaknya waktu terlalu berharga untuk dilewatkan melakukan hal lain. Jadi, kebanyakan kami berfoto, makan, dan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan, menghilangkan penat, dan hal-hal lain yang apabila dijelaskan bisa panjang lebar. Tema jalan kali ini adalah melepas lelah, jadi kami cari tempat yang tenang dan tidak hiruk pikuk. Kami temukan private villa di Nusa Dua, di villa ini cuma ada kami, tidak bisa diganggu atau dilihat manusia lain sehingga mau gulung-gulung, salto-salto, loncat-loncat, tidak ada yang akan melihat. Tentunya kami tidak salto-salto disini karena itu bisa menambah lelah, melainkan kegiatan-kegiatan yang bisa menghilangkan lelah. Kami tetap bisa memanggil orang untuk mengantarkan makan atau kegiatan house keeping. Di sela kegiatan, kami sempatkan mengunjungi Taman Begawan di daerah Benoa dan wilayah Jimbaran.

Selesai di Nusa Dua, kami bergerak ke Kuta dan menyewa motor di sana, berputar-putar sambil menunggu matahari tenggelam untuk kami foto, kemudian dilanjutkan mencari makan. Berbekal peta, rupanya kami tetap bisa tersesat. Untungnya Chacha masih membawa hp yang ada GPS dan petanya. Jadi saat saya bonceng, dia yang membaca peta menunjukkan harus belok mana. Setelah satu jam tersesat dan hampir menuju wilayah utara, akhirnya kami bisa kembali ke hotel di Kuta. Setelah mandi sebentar, kami melanjutkan untuk menengok mall yang baru, disana kami niatkan mencoba tempat makan yang jarang ada di tempat lain. Maka kami memesan makanan yang bernuansa Perancis. Pulangnya kami melewati Legian untuk melihat-lihat suasana dengan bermotor.
Besoknya kami menuju Balikpapan dengan singgah sebentar di Makassar, membeli kopi Toraja. Malamnya, kami bongkar-bongkar paketan alat-alat yang kami kirim sebelum ke Bali, jadi tidak sempat menulis blog lagi. Keesokan harinya, saya mengajak Chacha tour singkat sebagian kota Balikpapan, menunjukkan lokasi-lokasi strategis berputar-putar memakai angkot dan dilanjut vespa malam harinya. Sepulangnya, kami menata barang-barang sehingga kecapekan dan tidak sempat menulis blog lagi.
Keesokan paginya, yakni tadi pagi saat tulisan ini saya buat. Pada jam 4 pagi, saya dijemput sopir kantor untuk berangkat ke lautan kembali bekerja. Beruntung Chacha sangat cepat menyesuaikan diri. Walaupun mungkin kami terlihat lelah, kami senang.
Banyak hal yang belum saya tulis disini, saya akan lanjut tidur dulu, nanti bekerja shift malam.

Continue Reading

Tiga Hari Menjelang

Sejarah mencatat, tiga hari sebelum (H-3) proklamasi kemerdekaan, Soekarno-Hatta bersama Radjiman Wediodiningrat dalam kapasitasnya sebagai ketua-wakil PPKI dan BPUPKI sebelumnya, baru saja tiba mendarat di Jakarta dari Dallat, selatan Saigon, Vietnam, dari misinya bertemu Marsekal Terauchi Hisaichi, Panglima Perang Jepang wilayah Asia Tenggara untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Perjalanan ini ada halangan karena Singapura dibom sekutu sehingga mereka memutar rute lewat Taipan di Malaya, namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ini benar-benar mirip dengan kegiatan kami hari ini. Pada H-3, Saya-Chacha bersama Pak Lukman (dalam kapasitasnya sebagai Kepala Urusan Agama a.k.a Modin) baru saja bertemu Panglima, maksud saya, Ketua KUA wilayah Nganjuk Pusat untuk melakukan Suscatin (Kursus Calon Pengantin). Ini adalah kursus yang diwajibkan Ketua bagi calon pengantin atau oengantin baru. kursus ini bisa diambil sebelum akad ataupun setelah akad, tergantung situasi dan kondisi yang berkaitan. Halangan dialami pak Lukman, karena beliau lupa membawa piagam tanda keikutsertaan kami dalam kursus ini. Namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ada lagi, saya yang baru kembali dari lautan, terbiasa bekerja shift malam, tadi susah bangun pagi, alarm masih terset waktu bagian Indonesia lain, sehingga, tidak seperti kebanyakan pasangan, justru saya yang dijemput Chacha. Dia memang tahu kebiasaan saya, kesulitan saya, hal ini membuat saya bersyukur. Walaupun saya sadari, tentunya saya mesti tidak kebluk seperti ini terus, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Walaupun saya sadari juga, Chacha tidak pernah mengeluhkan kejelekan sifat saya, she has a pure heart for me. Aaaa, saya jadi berlinang nulis ini.
H-3 biasanya kesibukan-kesibukan mulai dapat dilihat oleh sekitar dalam pengamatan. Seperti sejarah mencatat bahwa selama H-3 sampai hari H proklamasi pun banyak peristiwa-peristiwa yang diingat oleh pelajar-pelajar seantero Nusantara. Tak dapat dipungkiri, biasanya tampak melelahkan dan menegangkan, walaupun bagi pelakunya senang-senang dan tenang-tenang saja. Analoginya adalah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh sekelompok golongan muda, terkesan ini adalah tindakan kriminal karena kata “penculikan” tadi. Namun pada dasarnya itu hanyalah mengajak Soekarno-Hatta ke tempat yang lebih tidak hiruk pikuk agar bisa diskusi. Ini semacam kami ngenet, ke salon, santai-santai main game sekedar merilekskan diri.

Continue Reading

H-7: Memangnya Calon Manten Seharusnya Ngapain? II (Sekuel)

H-7, saya masih terapung di lautan,. Pagi-pagi buta saya dijemput sopir untuk pergi melaut karena jam 6 tepat kapal penjemput datang. Itupun sehari sebelumnya saya habis turun dari laut wilayah lain. Teman sopir bertanya, kenapa saya tidak pulang, biasanya saya jawab ringan dan bercanda. Jam 9 pagi saya sampai platform, membuka pintu kabin, dan terkagetlah teman-teman di dalamnya, “kamu ngapain kesini??? pulang pulang pulang, dicari orang rumah itu”. Seperti biasa saya menjawab enteng, “Tenang pren, nanti sore aku balik lagi, cuma jalan-jalan ini.” Terkesan bercanda, tapi memang iya, sorenya saya balik ke darat lagi. Satu hari ini hanyalah untuk menyelesaikan urusan-urusan berkas-berkas, bukan untuk melakukan pekerjaan utama. Sorenyapun saya pulang, jam 8 malam baru sampai kediaman, jam 9 ini, saya di kantor, di malam minggu. Bertemulah dengan rekan saya dan menanyakan pertanyaan sama, mengapa masih di sini. Dan seperti biasanya, jawaban saya enteng-enteng saja. Saya juga disarankan teman untuk mengambil perawatan sebagaimana layaknya calon pengantin lain, saya jawab, “besok saya masih ke laut, banyak minyak-gas-oli dan asep di sana, tar kotor lagi, lusa aja”. Mungkin terdengar ngeles, tapi padahal memang iya, banyak sekali polusi memang di tempat lokasi saya bekerja. Jadi situasinya memang berbeda dengan yang ada di kota, di ruangan sejuk tanpa radikal bebas beterbangan di sekitarnya.

Saya sadari bahwa menurut kebiasaan umum, tidaklah demikian. Biasanya, khalayak umum akan segera mengambil semua cutinya, sudah duduk ayem tenang, facial, luluran, perawatan, berdiam diri di rumah, update-update media sosial. Tujuannya memang baik, untuk menjaga diri dan kesehatan. Namun kadangkala, variabel-variabel lingkungan, tidaklah selamanya seperti apa yang umum perkirakan. Saya masih jauh disini pada dasarnya agar nanti tidak ada tanggungan-tanggungan pekerjaan lain, apabila semua diselesaikan, tentulah liburan tidak perlu memikirkan urusan pekerjaan. Dan hal ini akan membawa akibat bahwa liburan akan benar-benar dinikmati dengan pikiran tenang.

Tentunya urusan-urusan ritual berkenaan dengan persiapan jelang hari H akan kami selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mungkin seperti tulisan-tulisan sebelumnya, saya terkesan sering mendadak-dadak dalam mengerjakan sesuatu. Begitulah, hidup memang penuh kejutan 😀

Baiklah, untuk kali ini, tulisan saya pendek dulu, saya mesti meneruskan beberapa kerjaan di kantor. Insyaallah, nanti akan saya lanjutkan dengan posting yang lebih bergambar. Sampai ketemu di acara kami, teman-teman. Mari saling bertatap dan tersenyum.

Continue Reading

H-7: Memangnya Calon Manten Seharusnya Ngapain?

44

Sebenarnya ini kejadian beberapa hari yang lalu ketika saya nongol di acara halal bi halal RSUD Nganjuk buat bagi-bagi tiket jalan-jalan gratis ke bulan undangan. Beberapa penerima undangan nanya ke saya, “Lho nggak dipingit?”

Ibu saya yang lalu menjawab, “Lho kalau dipingit nanti persiapannya nggak jalan.” Beberapa dari mereka ada yang juga menyalami saya dengan muka heran. Nggak tau tuh heran kenapa.

Entah heran karena 1. Muka saya masih kayak anak SMA, 2. Muka saya kumel kayak orang pedalaman yang ga kenal rumah kecantikan, 3. Nggak ada aura manten-mantennya sama sekali, 4. Badan saya kekurusan kayak model Victoria’s Secret.

Tetapi memang, ngurusin acara mantenan yang cuma buat beberapa jam ini rasanya nggak kelar-kelar. Bahkan sampai sekarang Bapak saya masih saja mengirimi nama-nama yang akan diundang ke acara nanti.

Belum lagi ditambah dengan Pre Marital Syndrome. Percayalah, sindrom seperti itu ada dan bisa menimpa kita *kayak iklan vaksin*.

Dulu ketika teman-teman saya mengalaminya, saya menggampangkan. Saya pikir itu cuma penyakit buat orang yang bisa berbahasa Inggris perfeksionis saja. Penyakit orang-orang yang acara nikahannya dilangsungkan di kota. Tidak di desa seperti saya.

Beberapa teman saya yang akan menikah dalam waktu dekat-dekat ini juga mengalaminya. Bila saya diberi kesempatan untuk menggambarkan perasaan saya saat ini, inilah:
quote
Iya. Seperti itulah quote menye-menye-nya.

PMS saya makin meningkat, karena beberapa orang tidak mengerti dan saya dituntut untuk selalu tampil oke setiap saat. Dan memang seharusnya seperti itu. Saya harus tampil oke, tidak panik, meskipun saya sedang kecemplung di tengah Danau Toba dan nggak bisa berenang. Tapi di tengah Danau Toba kan ada Pulau Samosir ya. Hahahaa..

Pingiiiin deh rasanya memutar jam dinding dan membalik kalender supaya besok jadi tanggal 31! Supaya sindromnya ganti. Jadi pre honeymoon syndrome, mungkin?

You wish!

Continue Reading