H-22: Taylor Swift di Kabupaten Nganjuk

22

Saya sedang tidur-tiduran santai sambil dengar iPod ketika lagu ini diputar. Speak Now yang dinyanyikan sama Taylor Swift.

Lalu tiba-tiba pikiran random muncul.

Kira-kira lucu nggak ya kalau di acara nikahan saya nanti ada mantan pacarnya pacar saya yang tiba-tiba nyanyi lagu ini di depan umum?

Kayaknya sih lucu.

Hahaha… Tuh kan mbayanginnya aja sudah bikin senyum-senyum.

Atau jangan-jangan mbak Taylor sendiri yang datang, menyanyi, dan merebut pacar saya.

Hahaha… Mungkin itu lebih lucu.

(Baca: Bayangkan Taylor Swift yang pernah macarin Jake Gyllenhaal itu ternyata doyan juga sama pacar saya. Lalu jauh-jauh datang ke Nganjuk bawa banjo dan menyanyi demi merebut dia dari saya.)

Hahaha!

Continue Reading

H-27: Menara Kardus

44

Setelah sekian lama menanti, akhirnya sampai juga saya dengan selamat di bulan Agustus. Bulan yang menjadi saksi atas penyatuan dua insan manusia yang tengah dimabuk cinta. Ngooook!

Saya menutup bulan Juli kemarin dengan acara kelupaan nggak menghadiri Suscatin yang diselenggarakan oleh KUA setempat.

Suscatin? Kursus Calon Pengantin.

Semacam seminar yang katanya sih, diwajibkan oleh Presiden Republik Indonesia untuk dihadiri setiap pasangan sebelum menikah. Pasangan lho yaa, bukan datang sendiri-sendiri, apalagi datang sama orangtua. Naasnya di acara tadi cuma saya dan pasangan saya yang bolos. Tuh taat peraturan sekali kan warga negara Kabupaten Nganjuk ini…

Tapi untungnya ada Suscatin susulan yang bisa diadakan secara privat di KUA maupun di rumah.

IMG_3060

Efek samping dari setiap pernikahan yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah penuhnya rumah. Apalagi kemarin souvenir saya datang. Jadilah pojok rumah saya berubah jadi semacam gudang supermarket dengan bangunan kardus pencakar langit yang isinya souvenir resepsi.

Soal souvenir resepsi  ini ada curhatan panjang di baliknya.

Jadi ceritanya, saat berjalan-jalan ke Solo, saya iseng mampir ke toko souvenir di daerah Nonongan yang berinisial V. Maksud saya untuk mencari souvenir yang tidak mainstream dengan harga yang miring.

Setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan kalau souvenirnya adalah wadah dengan bahan gerabah berbentuk daun, berwarna ijo. Wadah apa? Di contohnya sih wadah sabun, tetapi orangtua saya kepinginnya dibuat wadah-terserah-sesuai-keinginan-pemakai. Tuh kan repot.

Setelah proses down payment yang besarannya lumayanlah-bisa-buat-beli-handphone-meskipun-bukan-iPhone, kami pulang dengan angan-angan dua bulan lagi souvenirnya jadi.

Tetapi seiring dengan segala rupa kesibukan, souvenir-pun terlupakan dari pikiran saya. Hingga akhirnya Juli lalu sang pemilik toko menghubungi saya via BBM dan menunjukkan foto hasil souvenirnya.

Dor!

Ternyata hasilnya nggak sama. *lalu pembaca membatin, “Terus guweh mesti bilang wow gituh?”*

vs

Setelah bermuram durja ngamuk-ngamuk ke yang punya vendor tadi, saya lalu kebingungan cari pengganti souvenir.

Teman saya pun menyarankan untuk mencoba bikin souvenir di tempat yang dulu dia bikin.

Untung beribu untuung, vendor tadi mau menerima pesanan souvenir saya yang memang waktunya sudah mepet sekali. Konsekuensinya, souvenirnya isinya jadi beragam: nggak bisa pilih motif, dan bentuknya jadi ada dua macam.

IMG_3065

Itu tuh barangnya. Yang kanan lebih besar dari yang kiri.

Packingnya bagus, kemasannya rapi, pitanya bertuliskan nama kami *ya iyalah masak nama pak Presiden* dan bunganya nggak mainstream seperti bunga yang sering saya temui pada packing kemasan lainnya. Well done lah. Poinnya 9 dari 10. Karena ada beberapa mug yang nggak kinclong.

Souvenir ini saya pesan di

Tupai Art & Souvenir Centre
Ruko Mangga Dua B1 No.8
Jagir Wonokromo Surabaya
(031) 847-1774

 

Continue Reading

Bertahan

Judul ini sepintas seperti judul lagu. Atau semacam suatu judul tulisan orang galau mau curhat meratap-ratap. Bukan, tulisan kali ini bukanlah begitu. Lagipula, sudah bukan jamannya lagi bagi orang seusia saya membuat tulisan-tulisan ratapan menghiba-hiba seperti itu. Kali ini adalah suatu kisah mengenai saya yang sudah satu bulan bepergian. Iya, Juli 2013 ini, saya tidak pulang ke rumah, semacam jadi Bang Toyyib kalau di lagu yang nge-hits beberapa waktu lalu.

Kenapa saya tidak pulang? Bukan berarti saya minggat, ngambek, atau juga kabur. Melainkan karena pekerjaan saya memang mempunyai sistem days on – days off, alias beberapa waktu bekerja berurutan (termasuk Hari Sabtu, Minggu, Hari Raya Agama, Hari Raya Nasional, Hari Kejepit), lalu kemudian libur beberapa waktu berurutan (termasuk tanggal hitam, tanggal tua, tanggal muda) . Idealnya relatif tidak banyak saya masuk bekerja meninggalkan rumah, namun kali ini sudah satu bulan saya masih days on. Dan itu semua di tengah laut. Bukan curhat mengenai duka nestapa saat bekerja, tidak, saya tidak mengeluhkan pekerjaan saya. Saya hanya hendak sharing kesadaran saya, bahwa yang lebih susah dalam situasi ini justru adalah bukanlah saya, melainkan orang yang saya tinggalkan, yakni keluarga saya di rumah, apalagi Chacha.

Saya mahfum betul bahwa persiapan acara resepsi demikian hectic, tanpa kehadiran saya, bisa dikatakan ibarat kereta api kekurangan 1 roda. Mungkin bisa jalan, namun terasa ada yang kurang. Pembaca yang melakukan persiapan acara nikahan, tentunya paham benar mengenai hal ini. Mereka yang tidak LDR-pun biasanya akan mengalami fase-fase kepusingan sana-sini. Kemudian, yang tiap hari bisa tatap muka, juga bisa mengalami salah paham, apalagi yang hanya bisa bicara lewat telpon yang mana kadang-kadang sinyal mati-mati, ataupun sekitar berisik suara mesin. Itu membuat cerita tersendiri di masing-masing orang, begitupun saya, keluarga dan Chacha. Belum lagi jika ditambah saya harus masuk s0re-malam-pagi. Biasanya pembicaraan kurang efektif. Itupun belum ditambah kalau saya lagi ada problem dalam operasi di lapangan, pikiran nyambungnya kadang tidak maksimal. Namun, hal-hal tersebut bisa kami atasi, not a big deal. Hal demikian, bukanlah masalah dan tak lantas jadi dibesar-besarkan.

Tulisan inipun bukan membahas tentang itu. Hal-hal diatas bukanlah suatu problematika bagi kami. Itu hanyalah bumbu-bumbu dalam meracik kami menjadi suatu kombinasi yang maknyus. Lalu bertahan dari apa? Siapa yang bertahan?

Continue Reading

Blog Maintenance: Njajal Foto Lagi

Hai!

Hari ini ada dua hal besar yang terjadi.

Pertama, saya bisa bikin foto yang bisa berganti saat disenggol sama mouse. Mm jadi efeknya nggak kelihatan di handphone dan tablet ya.

12

Wow wow wow senang sekali! Tapi saya nggak ngerti masalah CSS. Jadi nggak tau apa foto-senggol di atas bisa berfungsi untuk semua browser.

Kedua, CD foto prewedding saya barusan datang!

Foto-fotonya masih saya sortir untuk kemudian diedit sama fotografernya dan diprint. Satu lembar dengan ukuran 20RS dan 4 lembar dengan ukuran 12RS. Daaan saya barusan baca, 20RS berarti 50cm x 75cm di dunia nyata, serta 12RS berarti 30cm x 45cm.

Masalah yang mungkin timbul:

“Setelah ini mau dikemanakan fotonya???”

Gede banget lho. Sebesar poster Westlife yang dulu saya tempel di dinding.

Dan belum foto nikahnya.

Sekian.

 

Continue Reading

Daftar lagu perjalanan (Trip playlist)

Chacha beberapa waktu lalu membuat wedding songs list, kemudian beberapa waktu setelahnya, adik saya bertanya, “Mas, sampeyan list lagu minta apa aja”. Saya hanya menjawab, “oh, iya ya, tapi, apa orangnya tahu lagu-lagu yang nanti kumasukin list? playlistku kebanyakan lagu yang gak umum.” Begitulah, saya sebenarnya memahami maksud adik saya. Maka saya menyiapkan bebepa lagu yang sesuai tema yang saya tahu, dan kiranya penyanyi akan mengerti juga.

Saya bukanlah seseorang yang mempunyai pemahaman bagus dalam musik. Saya kurang bisa dalam mengerti tangga nada, kunci-kunci gitar, dan bagaimana menyanyi dengan solmisasi yang benar. Dari dulu, saya tidak bisa belajar gitar. Mungkin salah satunya karena saya jarang mendengarkan musik, alias mendengarkan ala kadarnya saja, kurang up to date terhadap perkembangan dunia musik. Ada musik ya saya dengar, tidak ada ya tidak apa-apa. Itulah mengapa dalam iPhone saya, tidak ada satu musikpun saya isi. Ini bukan berarti saya tidak menyukai musik, tetap saya dengarkan, karena kadang ada yang menarik perhatian saya untuk beberapa waktu. Musik bagi saya ibarat snack/makanan ringan. Ada cemilan ya saya makan, gak ada ya tidak apa-apa. Cemilan itu terasa tidak enak, ya tidak jadi saya makan. Dan kadang, ada cemilan keripik kentang kriuk yang menarik untuk diemil. Namun saat dirasa cukup, ngemil keripik berhenti. Kiranya semacam itu. Walaupun demikian, kadang saya juga bernyanyi dengan suara pas-pasan untuk kondisi tertentu. Pernah saya menyanyikan lagu untuk Chacha lewat telepon beberapa waktu lalu, dengan harapan dia bisa cepat tertidur. Dan entah kenapa, head-set bluetooth yang saya pakai buat nyanyi di telepon, tidak berfungsi keesokan harinya -__-

Musik yang lebih menarik minat saya adalah musik-musik tradisional dengan perangkat tradisionalnya, itu yang pertama. Namun, saya tidak ada yang hapal dan seringkali tidak ingat judul dan liriknya. Semacam suatu suara yang enak di telinga, namun tidak sampai disimpan di memori. Mungkin kejadiannya seperti itu. Kemudian, saya cenderung menyukai musik yang mempunyai tempo keras, hip-hop dan rock misalnya. Dan tentunya, saya tetap tidak hapal liriknya dan sering lupa judulnya. Yang ketiga, saya menyukai musik yang aneh, misalnya musik yang terdengar enak dari rusia, arab, maroko, atau daerah afrika yang unik. Itupun sama, saya tak tahu apa kandungannya dan artinya, sekedar enak didengarkan untuk beberapa saat. Dan keempat, musik yang liriknya berkualitas. Lirik berkualitas disini bukan berarti disesuaikan atau dimirip-miripkan dengan suasana hati, tidak begitu. Lirik berkualitas adalah lirik yang kalimatnya tidak simple, tidak eksplisit sekali, dan mengandung rima yang bagus. Sebagai contoh, dalam minggu ini, hanya 1 lagu yang menarik minat saya, Hob Gamed (Stable Love). yang dinyanyikan Jannat, penyanyi dari Maroko, yang sampai posting ini saya tulis, saya tidak tahu liriknya bagaimana, yang jelas ini lagu berbahasa arab dengan dialek yang agak asing bagi telinga saya.

Namun, sesuai dengan tema, saya sudah mempersiapkan list lagu yang nantinya dinyanyikan oleh penyanyi dalam acara di tempat saya. Sepertinya nanti perlu dikompromikan dengan penyanyi karena mungkin list yang saya ajukan, penyanyinya kurang familiar. Juga, saya perlu mereview musik-musik dia, jangan sampai seperti perumpamaan cemilan tadi, terlalu manis, atau rasanya kurang familiar di lidah saya, walaupun sebenarnya tidak saya permasalahkan, asalkan liriknya pas. Sungguh aneh kiranya apabila nantinya penyanyi akan membawakan lagu “Sedih yang tak berujung”, misalnya. Juga, disesuaikan dengan selera tamu, sehingga ada beberapa lagu tradisional juga yang dimasukkan.

Lalu akan dikemanakan lagu-lagu list orisinil saya? Sesuai dengan judul, lagu ini akan saya pakai untuk digabungkan dengan list Chacha, untuk menikmati perjalanan. Karena biasanya, kalau di kereta api atau bus, saya biasa instagraman sendiri atau membaca artikel-artikel. Tentunya menurut saya, ini kurang adanya kegiatan kebersamaan. Jadi, perlu kiranya menyiapkan headset dengan 4 speaker.

Diantara lagu yang saya berharap penyanyi bisa menyanyikan (dengan versi asli ataupun versinya sendiri) adalah:

  1. “I love you” by D’Cinnamons.
  2. “Menikahimu” by Kahitna.
  3. “Takkan Terganti” by Marcell.
  4. “Love Just is” by Hillary Duff
  5. “Thank you for Loving Me”, by Bon Jovi
  6. “The way you look at me”, by Christian Bautista
  7. “You’re Beautiful”, by James Blunt
  8. “True”, by Ryan Cabrera
  9. “From This Moment On”, by Shania Twain
  10. “KKSK (Karena Ku Sayang Kamu”, by Dygta
  11. “Pyramid” by Charice feat Lyaz
  12. “Kau yang Terindah” by Java Jive
  13. “Terima kasih cinta”, by Afgan
  14. “A Brand New Day” by Ten2Five
  15. “Hanya Padamu” by Ten2Five
  16. “Setyo Tuhu”, by Manthous ft Sunyahni

Continue Reading

Aksi Folder Rahasia

Screen_20120308_171829 - Copy

Saya adalah orang yang sangat sentimental. Semua hal yang sarat akan muatan sentimental selalu saya simpan (meskipun ujungnya kayak simpan sampah).

Dulu pas jaman PDKT saya kadang meng-screen capture percakapan Blackberry Messenger saya dengan pacar saya. Isinya apalagi kalau bukan gombalan. Kami berdua lempar-lemparan gombal.

Kemudian masalah timbul saat pacar saya (yang waktu itu masih berstatus gebetan) mau ngapelin saya. Wuih. Saya langsung parno campur gengsi. Yaapa nanti kalau dia liat hape saya?

Langsung deh saya copy semua file .jpeg tadi ke laptop. Masih merasa parno, saya samarkan nama foldernya.

Tapi memang benar kata pepatah, bahwa masalah nggak pernah datang sendirian. Saya kemudian lupa nama foldernya apa. Begitu terus sampai setahun berlalu.

Sampai secara nggak sengaja, suatu hari teman saya minta dicopykan sebuah makalah yang pernah saya tulis. Nggetu saya di depan laptop menyisir satu demi satu folder hingga tibalah saya di sebuah folder bernama Periodontitis Apikalis Akut. Setelah dobel klik saya kaget dan langsung senyum-senyum alay.

Disitulah semua file .jpeg sentimental tadi berada.

Haha.. Tetapi hanya image yang paling biodegradable yang saya post. Sisanya bisa menyebabkan sembelit, mual, muntah, kram perut, sampai hipoksia hingga 7 hari 7 malam.

Screen_20120223_232039 - Copy

NB. Dan sampai sekarang kami belum pernah masak tahu kecap bareng. Hhh entahlah inspirasi romantika memasak tahu kecap bersama dulu itu dapat darimana.

 

 

Continue Reading

Setelah Lamaran

Hari Minggu tanggal 26 Mei kemarin saya dan keluarga saya pergi berbondong-bondong ke rumah Pacar saya. Mau nonton bola bareng mbalesin lamaran ceritanya.

Acaranya dadakan sekali. Nah ini susahnya jadi pacar Pacar saya. Selalu pasang status siaga dan waspada. Semacam lagi macarin gunung berapi lah. Mendadak lamaran, mendadak mbalesin lamaran dan mendadak-mendadak lainnya.

Kali ini karena saya adalah pihak tamu, saya nyantai sekali. undangan jam 10, jam setengah 10 baru pegang bedak plus sebentar-sebentar lari ke depan AC cari angin.

DSC_02612

Kata teman-teman saya keliatan cakep di foto, bajunya bagus, dan cara berjilbabnya menunjukkan kemahiran diatas rata-rata.

Yang sebenarnya terjadi adalah kancing baju saya copot satu, rok saya pinjam punya ibu saya, dan saya cuma bisa bikin model jilbab seperti itu saja. Jadi yaa meskipun acaranya banyak, jilbabnya ganti-ganti, modelnya ya cuma itu saja. Dan semalam sebelum acara Tante saya menjahit baju saya biar kelihatan lebih pas dipakai.

Nah kan, semua hal nggak selalu kelihatan seperti yang terlihat.

DSC_0176

Lalu acara berjalan sesuai rencana. Ngapain aja ya? Pihak saya cuma menghaturkan tanggal (yang memang sudah disetujui sebelumnya), perkenalan keluarga (lagi) tapi saya tetep nggak hafal juga, dan ngasihtau kerangka kasar acara pernikahan.

DSC_0190

Setelah itu foto keluarga. Ini foto dengan mayoritas orang terbanyak yang lihat kamera. Maklum lah yaa  ga pake jasa profesional. Acara ndadak kok njaluk slamet hahahaa.. Pokoknya ada, sudah cukup.

DSC_0268

Tuh kan, fokus matanya kemana-mana. Semacam lagi di red carpet lah, banyak fotografernya, lalu bingung mau lihat ke kamera yang mana. *pede*

DSC_0283

DSC_0306

DSC_0051

DSC_0168

Setelah saya capek senyum dan makanan di meja sudah dihabiskan, lalu saya dan keluarga saya pamit pulang.

Acara selesai.

Kesimpulannya, kawin yang baik dan benar itu rempong sekali ternyata. Nggak bisa langsung bilang SAH, mejeng di kuade bentar terus ciao pergi berbulan madu. Sekian dan terimakasih.

Continue Reading

Wedding Playlist

Curhat sedikit dulu ya. Akhir-akhir ini dalam ngurusin pernikahan banyak sekali angan-angan yang saya cita-citakan (beberapa sejak saya masih kecil malah) tidak terealisasi. Di bulan-bulan awal saya sangat idealis. Mau begini dan begitu. Eeh tapi makin ke belakang semangat juang tak lagi 45 rupanya. Akhirnya yang ada malah, “Halah adanya ini, jangan bikin diri sendiri makin repot ah.”

Contohnya nih, yang lagi saya urusin sekarang adalah band. Di balik muka saya yang tegar ini, saya adalah orang yang sangat concern mengenai dunia permusikan pada saat resepsi berlangsung. Mimpi saya muluk-muluk sekali. Yaaa kalau bisa sih, resepsi saya nanti ngundang Maliq & d’essentials. *lalu semesta hening* *lalu tamunya cuma 10 orang karena ga mampu bayar katering* *lalu mantennya cuma self-makeup karena nggak mampu bayar perias*

Lalu mimpi yang muluk sekali tadi turun sejuta level karena Ibu saya minta musik resepsi cuma pakai organ tunggal.

Untungnya setelah saya pasang muka kayak stiker LINE selama beberapa hari, akhirnya Ibu saya menyadari, bahwa pakai band itu lebih keren. Hahaha muka saya langsung sembuh!

Saya dan selera saya yang aneh ini, kepingin banget denger suara saksofon. Tapi ya, gimana lagi ya, namanya juga di desa. Pilihan juga nggak banyak. Dan kalaupun diniatkan untuk mendatangkan band dari Surabaya, pastinya juga nggak murah. Masih banyak yang bisa dibeli lah dengan uang segitu. Beras, minyak goreng, kopi, gula… Sigh kasian banget lah pokoknya saya.

Entah siapa yang bakal disewa nanti, tapi yang jelas saya sudah bikin playlist. Perkara band-nya bisa memainkan atau tidak itu masalah nanti ya. Yang penting ada dulu.

Meskipun cuma buat dibaca aja.

Sigh lagi.

WedPlay

Apa?? Cuma satu? Mana mungkin…

wdpl

Playlist yang saya sendiri pun kalau disodorin bakal nyuruh yang punya hajat buat nyalain mp3 aja deh daripada pakai band.

 
Texture didownload dari http://cloaks.deviantart.com
Continue Reading

Memilih Tempat Bulan Madu

Memilih tempat bulan madu adalah hal yang gampang-gampang susah. Disamping memikirkan hal standar seperti budget dan timing,  tentunya hal yang tak kalah pentingnya adalah mempertimbangkan taste. Seperti halnya pasangan lain, kami adalah dua sosok yang mempunyai kesamaan dan juga perbedaan selera dalam hal menikmati suatu liburan. Sebagai misal, kami sama-sama menyukai museum, namun honeymoon dengan tema tour de museum kiranya adalah hal yang harus direncanakan dengan matang, karena sepanjang saya tahu, sampai saat ini belum ada paket honeymoon semacam itu. Paket bulan madu mainstream kebanyakan adalah kumpulan perjalanan ke pantai, gunung, artificial place (mall, pusat tempat belanja, amusement park), sekedar senang-senang. Walupun memang honeymoon itu identik dengan hal menyenangkan, namun tidak ada salahnya pula jika menambahkan unsur lain dalam haneymoon itu, misalnya petualangan, tantangan, pembelajaran, dan sebagainya. Bisa kita lihat, sangat kurang ada yang menawarkan nilai lebih dalam paket-paket honeymoon, misalnya honeymoon sambil belajar, sambil berpetualang, sambil mengenal seni budaya, sambil meningkatkan rasa nasionalisme berbangsa – bernegara, dan sebagainya. Mungkin hal semacam ini ada di pikiran saya saja :D.

Brosur langka
Brosur langka
Continue Reading