Mendadak Lamaran

Setelah tujuh bulan (lebih sedikit) lamanya kami mengikat tali kasih *uhuk!*, kekasih saya memutuskan untuk menaikkan level kasih kami ke jenjang yang lebih lanjut. Engagement gitulah namanya kalau di luar negeri. Lamaran kalau di Indonesia.

Semua mendadak. Tidak sampai hitungan 7 hari bahkan dari awal pelontaran ide sampai dengan hari H. Akan tetapi untungnya semuanya berjalan lancar dan dihadiri oleh keluarga dekat dari kedua belah pihak.

Persiapannya nggak heboh, tapi yaa heboh juga sih. Sanak saudara mulai dikontak 3 hari sebelum hari H dan untungnyaaa semua menyanggupi untuk hadir.

Kehebohannya timbul akibat kehabisan AC. Iya, karena acara diadakan mendadak, di hari Minggu, pada puncak panas-panasnya daerah khatulistiwa, akibatnya saya nggak kebagian AC. Dan Nganjuk adalah kota kecil dimana untuk menyewa AC bahkan ACnya harus didatangkan dari Jombang atau Surabaya. Saya mulai panik. Wong dasarnya saya ini gampang keringetan yaa.. Lalu dengan diantar kekasih *uhuk!* saya pergi ke Kediri, dimana kemudian saya menemukan bahwa semua AC juga habis disewa. Jreeeeeng.

 

Setelah dipikir-pikir selama 7 turunan dan ketika Ibuk melihat wajah melas saya karena nggak kebagian AC, akhirnya diputuskanlah hari itu untuk membeli AC. Hihihii senang bukan main. Ruang nonton TV rumah saya sekarang ada ACnya.

H-2 suasana rumah mulai mambu hajatan. Rumah mendadak jadi super bersih dan orang-orang pasang muka serius.

Pada H-1 AC dipasang, dibumbui dengan acara mati lampu. Hahaha..

 

Hari H. Pagi-pagi lantai disapu lagi untuk yang kesekian kalinya. Katering mulai datang, juga saudara-saudara. Sementara ibuk bete karena saya belum juga mandi.

Saudara yang datang jauh dari Surabaya lalu makan, saya mulai deh drama, ga bisa nelan makanan. Akhirnya moto-moto sepupu.

Setelah itu suasana jadi terkontrol, semua selesai dandan dan saya (akhirnya) selesai mandi.

Pada saat saya ngasih kode kalau “tamu spesialnya” lagi otw, semua baris diluar rumah. Saya? Disuruh sembunyi sampai dipanggil.

Lalu datanglah orang yang saya taksir setengah mati itu bersama dengan keluarganya. Saya masih sembunyi.

Setelah para hadirin dan hadirot duduk, acara pun dimulai. Saya masih sembunyi.

Kemudian perwakilan tamu mulai saling memperkenalkan member keluarganya masing-masing. Saya masih sembunyi. Ya ampun siapa sih mas-mas batik coklat yang daritadi sadar kamera terus ituuh!

Akhirnya saya keluaaaar. Pegang tisu karena sumuknya mintak ampun. Senyum-senyum alay, ketawa matigaya gitu deeh..

Lalu bapake tes mic dan ngobrol khas bapak-bapak. Setelah deal harga buat lamaran yasudah deh cincin dipasang. Nggak pakai adegan cowok berlutut kayak di impian yaa…belum muhrim katanya.

Dilanjutkan dengan acara senyum alay bersama yang disponsori oleh PDGI Kabupaten  Nganjuk. Iiiiiiiiii…

Lalu semua makan-makan.

Setelah itu para tetamu dari keluarga kekasih saya pulang. Dan para sepupu kembali berebut main skateboard.

Yaah begitulah peristiwa lamaran yang terjadi hanya sekali dalam seumur hidup saya. Asik juga kok ternyata jadi tunangan orang.

Ohya. Adakah yang melihat kejanggalan foto disini? Ya sudah deh kalau nggak ada. Jadi begini ya, endingnya setelah para tamu sudah duduk manis di rumah masing-masing saya baru nyadar. Nggak ada foto berdua antara saya dan kekasih saya. Nggak ada foto pamer cincin. Lupa. Dan juga nggak ada yang ngingetin. Saya curiga orang seruangan itu juga lupa semua kayaknya. Hahahaa..

 

 

Continue Reading

Pangeran Berkuda Putih Saya

Setiap gadis pasti memiliki impian masing-masing tentang seperti apa pasangan hidup mereka nantinya. Dulu, jaman saya SMA, saya sangat termimpi-mimpi oleh tokoh dalam novel trilogi Indiana yang ditulis oleh Clara Ng.

Indiana sebagai tokoh utama adalah seorang pekerja kantoran biasa yang hidupnya berubah menjadi luarbiasasetelah ia berjumpa dengan Francis Marijono. Francis Ellison Marijono lengkapnya.

Bum! Tokoh Francis seketika menjelma menjadi pangeran berkuda putih saya.

Francis yang anak orang kaya, yang seingat saya waktu itu jadi CEO perusahaan multinasional dan namanya seliweran di majalah bisnis, serta bisa mampu mencarter pesawat ke Singapura hanya untuk memberi surprise dinner buat Indiana.

Selain itu?

Sangat kental di bayangan saya Francis yang bertubuh tinggi, ramping, menyesap setidaknya 5 gelas kopi sehari, berkemeja sejak saat ia selesai mandi pagi sampai mau tidur malam, wangi parfum mahal, dan pastilah perutnya sixpack.

Ada lagi?

Francis yang romantis. Buktinya? Trilogi Indiana diakhiri dengan Francis menyusul Indiana ke Bali. Saat senja ia berlutut dengan satu kaki di tepi pantai saat matahari mulai terbenam dan melamar Indiana. Ha! Siapa coba yang tidak mau dibegitukan?

Sejak saat itu saya memutuskan untuk menjadikan Francis sebagai impian saya.

Tahun berganti, tapi saya tak kunjung bertransformasi jadi cewek super cakep buat bisa menarik hati pria selevel Francis.

Lalu? Apa yang terjadi berikutnya?

Yang terjadi selanjutnya adalah rencana Tuhan.

Bukan Francis, tapi Ade Bayu.

Ade Bayu yang jangankan necis, pakai kemeja saja menunggu kalau mau ketemu calon mertua. Bahkan melamar saya di tepi pantai pasti sama sekali nggak akan terlintas di pikirannya seumur hidupnya.

Kecewa kah saya? Tidak sama sekali.

Mungkin dia nggak seindah Francis, tapi dia salah satu dari sekian hal yang terbaik yang pernah terjadi pada saya.

Dan percaya atau tidak, tadi sore saat tengah menyopir dan terjebak macet saya menyadari. Jarak antara dirinya dan Francis tidak terpaut sangat jauh. Dari 3 paragraf diatas mengenai hal-hal yang membuat saya jatuh terpesona pada Francis, setidaknya 7 hal saya temukan di pacar saya.

Setelah tujuh?

Begini. Dia nyata, meskipun nggak bisa ditemui setiap hari. Bukan fiktif. Dia akan dan selalu ada untuk saya. Itu cukup bagi saya untuk mengungguli deskripsi tiga paragraf mengenai Francis.

Jadi mau apa lagi saya? ~

Continue Reading