Resume Sekitaran Hari H

Hari H, H disini bukanlah “Hilang”. Kami tidak menghilang, hanya tidak sempat saja. H disini adalah kombinasi “Hore” dan “Heboh”. Bagaimana tidak, setelah H-3, bisa dikatakan waktu menulis sangatlah langka, untuk duduk upload gambar ke instagram saja sulit. Hal ini disebabkan banyaknya persiapan ini itu pada bagian finishing. Kesibukan tentunya lebih banyak di rumah Chacha, karena acara pertama ada di sana. Sedangkan di saya, seputaran hari H adalah persiapan-persiapan sosial kemasyarakatan dan persaudaraan. Menyiapkan agar persiapan keberangkatan haji mempelai pria tepat waktu sehingga tidak membuat khawatir banyak orang.

Pada H-1, saya kedatangan kawan seperjuangan saya, Alief, jauh-jauh dari Jakarta. Seperti masa silam, kamipun menempuh perjalanan untuk ngopi ala wonge dewe. Alief memesan kopi jahe dan karena besok acara besar, saya tidak memesan kopi, melainkan jahe panas, hitung-hitung sebagai penambah tenaga. Walaupun tanpa kafein, ternyata jahe membuat saya terjaga sampai jam 2 malam, jam 4 saya dibangunkan ibu karena perias sudah datang. Mungkin ini juga efek akibat beberapa hari sebelumnya saya shift malam terus di laut. Semua khawatir saya akan mengantuk pas acara siangnya, kemudianpun saya mendapatkan secangkir kopi panas.
Alhamdulillah, acara berlangsung lancar jaya.

Saat tulisan ini saya ketik, foto-foto dari kamera saya masih dibawa adik saya, foto dari fotografer belum jadi, seperti biasa, detil dan gambar akan disusulkan.
Malamnya, untuk ngeblogpun juga tidak sempat, besoknya juga tak sempat, lusanya juga tidak sempat, dan keesokannya kami mempersiapkan acara H+4, yakni ngunduh mantu. Seperti acara pertama, kami bangun pagi-pagi untuk dirias, saya bangun agak telat karena perias telat datang. Seperti sebelumnya, alhamdulillah, lancar jaya juga.
Malam ngunduh mantu kami tidak sempat ngeblog karena masih ada acara karaoke di depan rumah. Walau kami tidak menyanyi, kami ikut begadang menemani tamu dan saudara. Jadi malamnya tidak sempat ngeblog, besoknya juga tidak sempat ngeblog, lusanya pun juga. Mengapa banyak tidak sempat barangkali akan dijelaskan detil di lain waktu dikarenakan beberapa memerlukan edit agar blog ini bisa dibaca semua kalangan usia. Dan keesokannya kami bersiap untuk jalan-jalan ke pulau sebelah, Bali. Waktu packing membuat tidak sempat membuat blog.

Tadinya, saya berencana menulis sembari bersantai di pantai, namun agaknya waktu terlalu berharga untuk dilewatkan melakukan hal lain. Jadi, kebanyakan kami berfoto, makan, dan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan, menghilangkan penat, dan hal-hal lain yang apabila dijelaskan bisa panjang lebar. Tema jalan kali ini adalah melepas lelah, jadi kami cari tempat yang tenang dan tidak hiruk pikuk. Kami temukan private villa di Nusa Dua, di villa ini cuma ada kami, tidak bisa diganggu atau dilihat manusia lain sehingga mau gulung-gulung, salto-salto, loncat-loncat, tidak ada yang akan melihat. Tentunya kami tidak salto-salto disini karena itu bisa menambah lelah, melainkan kegiatan-kegiatan yang bisa menghilangkan lelah. Kami tetap bisa memanggil orang untuk mengantarkan makan atau kegiatan house keeping. Di sela kegiatan, kami sempatkan mengunjungi Taman Begawan di daerah Benoa dan wilayah Jimbaran.

Selesai di Nusa Dua, kami bergerak ke Kuta dan menyewa motor di sana, berputar-putar sambil menunggu matahari tenggelam untuk kami foto, kemudian dilanjutkan mencari makan. Berbekal peta, rupanya kami tetap bisa tersesat. Untungnya Chacha masih membawa hp yang ada GPS dan petanya. Jadi saat saya bonceng, dia yang membaca peta menunjukkan harus belok mana. Setelah satu jam tersesat dan hampir menuju wilayah utara, akhirnya kami bisa kembali ke hotel di Kuta. Setelah mandi sebentar, kami melanjutkan untuk menengok mall yang baru, disana kami niatkan mencoba tempat makan yang jarang ada di tempat lain. Maka kami memesan makanan yang bernuansa Perancis. Pulangnya kami melewati Legian untuk melihat-lihat suasana dengan bermotor.
Besoknya kami menuju Balikpapan dengan singgah sebentar di Makassar, membeli kopi Toraja. Malamnya, kami bongkar-bongkar paketan alat-alat yang kami kirim sebelum ke Bali, jadi tidak sempat menulis blog lagi. Keesokan harinya, saya mengajak Chacha tour singkat sebagian kota Balikpapan, menunjukkan lokasi-lokasi strategis berputar-putar memakai angkot dan dilanjut vespa malam harinya. Sepulangnya, kami menata barang-barang sehingga kecapekan dan tidak sempat menulis blog lagi.
Keesokan paginya, yakni tadi pagi saat tulisan ini saya buat. Pada jam 4 pagi, saya dijemput sopir kantor untuk berangkat ke lautan kembali bekerja. Beruntung Chacha sangat cepat menyesuaikan diri. Walaupun mungkin kami terlihat lelah, kami senang.
Banyak hal yang belum saya tulis disini, saya akan lanjut tidur dulu, nanti bekerja shift malam.

Continue Reading

Memilih Tempat Bulan Madu

Memilih tempat bulan madu, biasanya menjadi salah satu ritual bagi pasangan pengantin baru. Seperti kita ketahui bersama, hal ini yang menganggapnya penting, keharusan, bukan keharusan, hal yang berlebihan, dan berbagai pendapat pribadi lainnya. Namun, tulisan ini tidaklah membahas hal-hal berkenaan dengan pro-kontra pendapat masing-masing itu. Disini, saya hanya menulis, apa yang terjadi dan yang kami pikirkan, tak lebih dari pendapat kami pribadi dan hal-hal umum yang hendak kami bagi.

Menyinggung sedikit tentang pendapat, saya menganggap bulan madu sebagai sebuah kegiatan piknik/tamasya bersama pasangan yang mestinya dilakukan (tak tergantung waktunya, tidak harus setelah selesai acara) untuk melepas penat, merefresh suasana, membahas hal-hal yang kadang terlewat dalam keseharian. Sekedar melakukan perjalanan tanpa berpikir yang berat-berat. Sebuah perjalanan yang bisa dijadikan kenangan, untuk diceritakan ke anak cucu. Begitulah menurut saya. Dikombinasikan kesukaan saya akan sejarah dan politik, saya punya keinginan untuk melakukan Bulan Madu Napak Tilas, yakni bulan madu sambil melakukan perjalanan yang ada catatan sejarahnya.

Bagaimana jika bulan madu napak tilas perjalanan Musa? Saya kira ini sangat spektakuler, namun hampir mustahil karena saya tidak punya mukjizat dari Alloh SWT seperti Musa A.S. dalam membelah laut merah. Disamping juga, perjalanan itu tentulah menghamburkan uang dan berbahaya karena harus melewati Mesir yang sedang konflik pasca kejatuhan Morsi, juga harus lewat Israel-Palestina. Kiranya ini hanya ada dalam khayalan intermesso saya. Sesuatu yang sering terjadi pada saya, switch pada hal-hal yang aneh. Maka, mempertimbangkan berbagai hal, saya terbersit untuk melakukan napak tilas Daendels. Kenapa bukan Jenderal Soedirman? Karena rute Pak Dirman lewat hutan-hutan, bergerilya, jalan kaki, yang dapat mengakibatkan justru capek di jalan. Bagi yang menggemari pelajaran sejarah, saat mendengar Daendels, maka pasti langsung mengasosiasikan dengan Jalan Raya Anyer-Panarukan, dialah yang membangun (walau tidak seluruhnya) Jalan Anyer-Panarukan ini alias Jalan Raya Pos. Didukung pada ulang tahun saya kemarin, Chacha memberikan saya buku berkenaan dengan ini, “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, karya Pramoedya Ananta Toer.

JPOS01

Ini pasti karena saya banyak membahas ini, dan mengeluh tak bisa menemukan bukunya di Toko Buku terkemuka dan tak terkemuka. Rupa-rupanya, dia memesan lewat jalur khusus untuk mendapatkan buku ini. Saya sangat senang membaca buku-buku semacam ini memang. Barangkali, nanti di bagian lain, akan saya posting mengenai cara-cara kami menyikapi buku bacaan. Ini yang menarik menurut pengamatan saya untuk dituliskan.

Kembali pada topik utama, keinginan napak tilas ini agaknya perlu saya undur waktunya. Ketidakmungkinannya lebih disebabkan oleh waktu yang terbatas. Cuti saya terbatas, di sisi lain, perjalanan napak tilas ini memerlukan waktu banyak, waktu cadangan, dan ekstra dari waktu cadangan untuk hal-hal tak terduga. Disamping juga, pastilah ini melelahkan, apalagi jika dieksekusi setelah serangkaian acara. Cukup masuk akal untuk mengundur, dan menggantinya dulu dengan tujuan lain. Saya kemukanan pada Chacha mengenai suatu tujuan yang penuh petualangan, ke suatu tempat yang banyak museum, tempat bersejarah, patung, candi, hal-hal historikal. Nah, lagi-lagi, setelah diskusi dan beberapa pertimbangan, pastilah ini melelahkan, dan kiranya kurang tepat sebagai acara bulan madu. Ini cocok sebagai kegiatan eksploring, yang baiknya dilaksanakan saat benar-benar santai. Tubuh sangat prima, karena memang ada peluang terjadinya tersesat jalan, kendala lokal, dan sebagainya. Alangkah lebih baiknya jika bulan madu itu dilakukan di tempat santai, yang bisa mengurangi kepenatan, mengasingkan dari keramaian sejenak. Karena memang, saya menyukai kesunyian, suasana yang tidak crowded, dan tenang.\

Continue Reading