Tiga Hari Menjelang

Sejarah mencatat, tiga hari sebelum (H-3) proklamasi kemerdekaan, Soekarno-Hatta bersama Radjiman Wediodiningrat dalam kapasitasnya sebagai ketua-wakil PPKI dan BPUPKI sebelumnya, baru saja tiba mendarat di Jakarta dari Dallat, selatan Saigon, Vietnam, dari misinya bertemu Marsekal Terauchi Hisaichi, Panglima Perang Jepang wilayah Asia Tenggara untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Perjalanan ini ada halangan karena Singapura dibom sekutu sehingga mereka memutar rute lewat Taipan di Malaya, namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ini benar-benar mirip dengan kegiatan kami hari ini. Pada H-3, Saya-Chacha bersama Pak Lukman (dalam kapasitasnya sebagai Kepala Urusan Agama a.k.a Modin) baru saja bertemu Panglima, maksud saya, Ketua KUA wilayah Nganjuk Pusat untuk melakukan Suscatin (Kursus Calon Pengantin). Ini adalah kursus yang diwajibkan Ketua bagi calon pengantin atau oengantin baru. kursus ini bisa diambil sebelum akad ataupun setelah akad, tergantung situasi dan kondisi yang berkaitan. Halangan dialami pak Lukman, karena beliau lupa membawa piagam tanda keikutsertaan kami dalam kursus ini. Namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ada lagi, saya yang baru kembali dari lautan, terbiasa bekerja shift malam, tadi susah bangun pagi, alarm masih terset waktu bagian Indonesia lain, sehingga, tidak seperti kebanyakan pasangan, justru saya yang dijemput Chacha. Dia memang tahu kebiasaan saya, kesulitan saya, hal ini membuat saya bersyukur. Walaupun saya sadari, tentunya saya mesti tidak kebluk seperti ini terus, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Walaupun saya sadari juga, Chacha tidak pernah mengeluhkan kejelekan sifat saya, she has a pure heart for me. Aaaa, saya jadi berlinang nulis ini.
H-3 biasanya kesibukan-kesibukan mulai dapat dilihat oleh sekitar dalam pengamatan. Seperti sejarah mencatat bahwa selama H-3 sampai hari H proklamasi pun banyak peristiwa-peristiwa yang diingat oleh pelajar-pelajar seantero Nusantara. Tak dapat dipungkiri, biasanya tampak melelahkan dan menegangkan, walaupun bagi pelakunya senang-senang dan tenang-tenang saja. Analoginya adalah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh sekelompok golongan muda, terkesan ini adalah tindakan kriminal karena kata “penculikan” tadi. Namun pada dasarnya itu hanyalah mengajak Soekarno-Hatta ke tempat yang lebih tidak hiruk pikuk agar bisa diskusi. Ini semacam kami ngenet, ke salon, santai-santai main game sekedar merilekskan diri.

Continue Reading

H-7: Memangnya Calon Manten Seharusnya Ngapain? II (Sekuel)

H-7, saya masih terapung di lautan,. Pagi-pagi buta saya dijemput sopir untuk pergi melaut karena jam 6 tepat kapal penjemput datang. Itupun sehari sebelumnya saya habis turun dari laut wilayah lain. Teman sopir bertanya, kenapa saya tidak pulang, biasanya saya jawab ringan dan bercanda. Jam 9 pagi saya sampai platform, membuka pintu kabin, dan terkagetlah teman-teman di dalamnya, “kamu ngapain kesini??? pulang pulang pulang, dicari orang rumah itu”. Seperti biasa saya menjawab enteng, “Tenang pren, nanti sore aku balik lagi, cuma jalan-jalan ini.” Terkesan bercanda, tapi memang iya, sorenya saya balik ke darat lagi. Satu hari ini hanyalah untuk menyelesaikan urusan-urusan berkas-berkas, bukan untuk melakukan pekerjaan utama. Sorenyapun saya pulang, jam 8 malam baru sampai kediaman, jam 9 ini, saya di kantor, di malam minggu. Bertemulah dengan rekan saya dan menanyakan pertanyaan sama, mengapa masih di sini. Dan seperti biasanya, jawaban saya enteng-enteng saja. Saya juga disarankan teman untuk mengambil perawatan sebagaimana layaknya calon pengantin lain, saya jawab, “besok saya masih ke laut, banyak minyak-gas-oli dan asep di sana, tar kotor lagi, lusa aja”. Mungkin terdengar ngeles, tapi padahal memang iya, banyak sekali polusi memang di tempat lokasi saya bekerja. Jadi situasinya memang berbeda dengan yang ada di kota, di ruangan sejuk tanpa radikal bebas beterbangan di sekitarnya.

Saya sadari bahwa menurut kebiasaan umum, tidaklah demikian. Biasanya, khalayak umum akan segera mengambil semua cutinya, sudah duduk ayem tenang, facial, luluran, perawatan, berdiam diri di rumah, update-update media sosial. Tujuannya memang baik, untuk menjaga diri dan kesehatan. Namun kadangkala, variabel-variabel lingkungan, tidaklah selamanya seperti apa yang umum perkirakan. Saya masih jauh disini pada dasarnya agar nanti tidak ada tanggungan-tanggungan pekerjaan lain, apabila semua diselesaikan, tentulah liburan tidak perlu memikirkan urusan pekerjaan. Dan hal ini akan membawa akibat bahwa liburan akan benar-benar dinikmati dengan pikiran tenang.

Tentunya urusan-urusan ritual berkenaan dengan persiapan jelang hari H akan kami selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mungkin seperti tulisan-tulisan sebelumnya, saya terkesan sering mendadak-dadak dalam mengerjakan sesuatu. Begitulah, hidup memang penuh kejutan šŸ˜€

Baiklah, untuk kali ini, tulisan saya pendek dulu, saya mesti meneruskan beberapa kerjaan di kantor. Insyaallah, nanti akan saya lanjutkan dengan posting yang lebih bergambar. Sampai ketemu di acara kami, teman-teman. Mari saling bertatap dan tersenyum.

Continue Reading

H-7: Memangnya Calon Manten Seharusnya Ngapain?

44

Sebenarnya ini kejadian beberapa hari yang lalu ketika saya nongol di acara halal bi halal RSUD Nganjuk buat bagi-bagi tiket jalan-jalan gratis ke bulan undangan. Beberapa penerima undangan nanya ke saya, “Lho nggak dipingit?”

Ibu saya yang lalu menjawab, “Lho kalau dipingit nanti persiapannya nggak jalan.” Beberapa dari mereka ada yang juga menyalami saya dengan muka heran. Nggak tau tuh heran kenapa.

Entah heran karena 1. Muka saya masih kayak anak SMA, 2. Muka saya kumel kayak orang pedalaman yang ga kenal rumah kecantikan, 3. Nggak ada aura manten-mantennya sama sekali, 4. Badan saya kekurusan kayak model Victoria’s Secret.

Tetapi memang, ngurusin acara mantenan yang cuma buat beberapa jam ini rasanya nggak kelar-kelar. Bahkan sampai sekarang Bapak saya masih saja mengirimi nama-nama yang akan diundang ke acara nanti.

Belum lagi ditambah dengan Pre Marital Syndrome. Percayalah, sindrom seperti itu ada dan bisa menimpa kita *kayak iklan vaksin*.

Dulu ketika teman-teman saya mengalaminya, saya menggampangkan. Saya pikir itu cuma penyakit buat orang yang bisa berbahasa Inggris perfeksionis saja. Penyakit orang-orang yang acara nikahannya dilangsungkan di kota. Tidak di desa seperti saya.

Beberapa teman saya yang akan menikah dalam waktu dekat-dekat ini juga mengalaminya. Bila saya diberi kesempatan untuk menggambarkan perasaan saya saat ini, inilah:
quote
Iya. Seperti itulah quote menye-menye-nya.

PMS saya makin meningkat, karena beberapa orang tidak mengerti dan saya dituntut untuk selalu tampil oke setiap saat. Dan memang seharusnya seperti itu. Saya harus tampil oke, tidak panik, meskipun saya sedang kecemplung di tengah Danau Toba dan nggak bisa berenang. Tapi di tengah Danau Toba kan ada Pulau Samosir ya. Hahahaa..

Pingiiiin deh rasanya memutar jam dinding dan membalik kalender supaya besok jadi tanggal 31! Supaya sindromnya ganti. Jadi pre honeymoon syndrome, mungkin?

You wish!

Continue Reading

H-22: Taylor Swift di Kabupaten Nganjuk

22

Saya sedang tidur-tiduran santai sambil dengar iPod ketika lagu ini diputar. Speak Now yang dinyanyikan sama Taylor Swift.

Lalu tiba-tiba pikiran random muncul.

Kira-kira lucu nggak ya kalau di acara nikahan saya nanti ada mantan pacarnya pacar saya yang tiba-tiba nyanyi lagu ini di depan umum?

Kayaknya sih lucu.

Hahaha… Tuh kan mbayanginnya aja sudah bikin senyum-senyum.

Atau jangan-jangan mbak Taylor sendiri yang datang, menyanyi, dan merebut pacar saya.

Hahaha… Mungkin itu lebih lucu.

(Baca: Bayangkan Taylor Swift yang pernah macarin Jake Gyllenhaal itu ternyata doyan juga sama pacar saya. Lalu jauh-jauh datang ke Nganjuk bawa banjo dan menyanyi demi merebut dia dari saya.)

Hahaha!

Continue Reading

H-27: Menara Kardus

44

Setelah sekian lama menanti, akhirnya sampai juga saya dengan selamat di bulan Agustus. Bulan yang menjadi saksi atas penyatuan dua insan manusia yang tengah dimabuk cinta. Ngooook!

Saya menutup bulan Juli kemarin dengan acara kelupaan nggak menghadiri Suscatin yang diselenggarakan oleh KUA setempat.

Suscatin? Kursus Calon Pengantin.

Semacam seminar yang katanya sih, diwajibkan oleh Presiden Republik Indonesia untuk dihadiri setiap pasangan sebelum menikah. Pasangan lho yaa, bukan datang sendiri-sendiri, apalagi datang sama orangtua. Naasnya di acara tadi cuma saya dan pasangan saya yang bolos. Tuh taat peraturan sekali kan warga negara Kabupaten Nganjuk ini…

Tapi untungnya ada Suscatin susulan yang bisa diadakan secara privat di KUA maupun di rumah.

IMG_3060

Efek samping dari setiap pernikahan yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah penuhnya rumah. Apalagi kemarin souvenir saya datang. Jadilah pojok rumah saya berubah jadi semacam gudang supermarket dengan bangunan kardus pencakar langit yang isinya souvenir resepsi.

Soal souvenir resepsiĀ  ini ada curhatan panjang di baliknya.

Jadi ceritanya, saat berjalan-jalan ke Solo, saya iseng mampir ke toko souvenir di daerah Nonongan yang berinisial V. Maksud saya untuk mencari souvenir yang tidak mainstream dengan harga yang miring.

Setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan kalau souvenirnya adalah wadah dengan bahan gerabah berbentuk daun, berwarna ijo. Wadah apa? Di contohnya sih wadah sabun, tetapi orangtua saya kepinginnya dibuat wadah-terserah-sesuai-keinginan-pemakai. Tuh kan repot.

Setelah proses down payment yang besarannya lumayanlah-bisa-buat-beli-handphone-meskipun-bukan-iPhone, kami pulang dengan angan-angan dua bulan lagi souvenirnya jadi.

Tetapi seiring dengan segala rupa kesibukan, souvenir-pun terlupakan dari pikiran saya. Hingga akhirnya Juli lalu sang pemilik toko menghubungi saya via BBM dan menunjukkan foto hasil souvenirnya.

Dor!

Ternyata hasilnya nggak sama. *lalu pembaca membatin, “Terus guweh mesti bilang wow gituh?”*

vs

Setelah bermuram durja ngamuk-ngamuk ke yang punya vendor tadi, saya lalu kebingungan cari pengganti souvenir.

Teman saya pun menyarankan untuk mencoba bikin souvenir di tempat yang dulu dia bikin.

Untung beribu untuung, vendor tadi mau menerima pesanan souvenir saya yang memang waktunya sudah mepet sekali. Konsekuensinya, souvenirnya isinya jadi beragam: nggak bisa pilih motif, dan bentuknya jadi ada dua macam.

IMG_3065

Itu tuh barangnya. Yang kanan lebih besar dari yang kiri.

Packingnya bagus, kemasannya rapi, pitanya bertuliskan nama kami *ya iyalah masak nama pak Presiden* dan bunganya nggak mainstream seperti bunga yang sering saya temui pada packing kemasan lainnya. Well done lah. Poinnya 9 dari 10. Karena ada beberapa mug yang nggak kinclong.

Souvenir ini saya pesan di

Tupai Art & Souvenir Centre
Ruko Mangga Dua B1 No.8
Jagir Wonokromo Surabaya
(031) 847-1774

 

Continue Reading

Bertahan

Judul ini sepintas seperti judul lagu. Atau semacam suatu judul tulisan orang galau mau curhat meratap-ratap. Bukan, tulisan kali ini bukanlah begitu. Lagipula, sudah bukan jamannya lagi bagi orang seusia saya membuat tulisan-tulisan ratapan menghiba-hiba seperti itu. Kali ini adalah suatu kisah mengenai saya yang sudah satu bulan bepergian. Iya, Juli 2013 ini, saya tidak pulang ke rumah, semacam jadi Bang Toyyib kalau di lagu yang nge-hits beberapa waktu lalu.

Kenapa saya tidak pulang? Bukan berarti saya minggat, ngambek, atau juga kabur. Melainkan karena pekerjaan saya memang mempunyai sistem days on – days off, alias beberapa waktu bekerja berurutan (termasuk Hari Sabtu, Minggu, Hari Raya Agama, Hari Raya Nasional, Hari Kejepit), lalu kemudian libur beberapa waktu berurutan (termasuk tanggal hitam, tanggal tua, tanggal muda) . Idealnya relatif tidak banyak saya masuk bekerja meninggalkan rumah, namun kali ini sudah satu bulan saya masih days on. Dan itu semua di tengah laut. Bukan curhat mengenai duka nestapa saat bekerja, tidak, saya tidak mengeluhkan pekerjaan saya. Saya hanya hendak sharing kesadaran saya, bahwa yang lebih susah dalam situasi ini justru adalah bukanlah saya, melainkan orang yang saya tinggalkan, yakni keluarga saya di rumah, apalagi Chacha.

Saya mahfum betul bahwa persiapan acara resepsi demikian hectic, tanpa kehadiran saya, bisa dikatakan ibarat kereta api kekurangan 1 roda. Mungkin bisa jalan, namun terasa ada yang kurang. Pembaca yang melakukan persiapan acara nikahan, tentunya paham benar mengenai hal ini. Mereka yang tidak LDR-pun biasanya akan mengalami fase-fase kepusingan sana-sini. Kemudian, yang tiap hari bisa tatap muka, juga bisa mengalami salah paham, apalagi yang hanya bisa bicara lewat telpon yang mana kadang-kadang sinyal mati-mati, ataupun sekitar berisik suara mesin. Itu membuat cerita tersendiri di masing-masing orang, begitupun saya, keluarga dan Chacha. Belum lagi jika ditambah saya harus masuk s0re-malam-pagi. Biasanya pembicaraan kurang efektif. Itupun belum ditambah kalau saya lagi ada problem dalam operasi di lapangan, pikiran nyambungnya kadang tidak maksimal. Namun, hal-hal tersebut bisa kami atasi, not a big deal. Hal demikian, bukanlah masalah dan tak lantas jadi dibesar-besarkan.

Tulisan inipun bukan membahas tentang itu. Hal-hal diatas bukanlah suatu problematika bagi kami. Itu hanyalah bumbu-bumbu dalam meracik kami menjadi suatu kombinasi yang maknyus. Lalu bertahan dari apa? Siapa yang bertahan?

Continue Reading

Blog Maintenance: Njajal Foto Lagi

Hai!

Hari ini ada dua hal besar yang terjadi.

Pertama, saya bisa bikin foto yang bisa berganti saat disenggol sama mouse. Mm jadi efeknya nggak kelihatan di handphone dan tablet ya.

12

Wow wow wow senang sekali! Tapi saya nggak ngerti masalah CSS. Jadi nggak tau apa foto-senggol di atas bisa berfungsi untuk semua browser.

Kedua, CD foto prewedding saya barusan datang!

Foto-fotonya masih saya sortir untuk kemudian diedit sama fotografernya dan diprint. Satu lembar dengan ukuran 20RS dan 4 lembar dengan ukuran 12RS. Daaan saya barusan baca, 20RS berarti 50cm x 75cm di dunia nyata, serta 12RS berarti 30cm x 45cm.

Masalah yang mungkin timbul:

“Setelah ini mau dikemanakan fotonya???”

Gede banget lho. Sebesar poster Westlife yang dulu saya tempel di dinding.

Dan belum foto nikahnya.

Sekian.

 

Continue Reading

Daftar lagu perjalanan (Trip playlist)

Chacha beberapa waktu lalu membuat wedding songs list, kemudian beberapa waktu setelahnya, adik saya bertanya, “Mas, sampeyan list lagu minta apa aja”. Saya hanya menjawab, “oh, iya ya, tapi, apa orangnya tahu lagu-lagu yang nanti kumasukin list? playlistku kebanyakan lagu yang gak umum.” Begitulah, saya sebenarnya memahami maksud adik saya. Maka saya menyiapkan bebepa lagu yang sesuai tema yang saya tahu, dan kiranya penyanyi akan mengerti juga.

Saya bukanlah seseorang yang mempunyai pemahaman bagus dalam musik. Saya kurang bisa dalam mengerti tangga nada, kunci-kunci gitar, dan bagaimana menyanyi dengan solmisasi yang benar. Dari dulu, saya tidak bisa belajar gitar. Mungkin salah satunya karena saya jarang mendengarkan musik, alias mendengarkan ala kadarnya saja, kurangĀ up to date terhadap perkembangan dunia musik. Ada musik ya saya dengar, tidak ada ya tidak apa-apa. Itulah mengapa dalam iPhone saya, tidak ada satu musikpun saya isi. Ini bukan berarti saya tidak menyukai musik, tetap saya dengarkan, karena kadang ada yang menarik perhatian saya untuk beberapa waktu. Musik bagi saya ibarat snack/makanan ringan. Ada cemilan ya saya makan, gak ada ya tidak apa-apa. Cemilan itu terasa tidak enak, ya tidak jadi saya makan. Dan kadang, ada cemilan keripik kentang kriuk yang menarik untuk diemil. Namun saat dirasa cukup, ngemil keripik berhenti. Kiranya semacam itu. Walaupun demikian, kadang saya juga bernyanyi dengan suara pas-pasan untuk kondisi tertentu. Pernah saya menyanyikan lagu untuk Chacha lewat telepon beberapa waktu lalu, dengan harapan dia bisa cepat tertidur. Dan entah kenapa, head-set bluetooth yang saya pakai buat nyanyi di telepon, tidak berfungsi keesokan harinya -__-

Musik yang lebih menarik minat saya adalah musik-musik tradisional dengan perangkat tradisionalnya, itu yang pertama. Namun, saya tidak ada yang hapal dan seringkali tidak ingat judul dan liriknya. Semacam suatu suara yang enak di telinga, namun tidak sampai disimpan di memori. Mungkin kejadiannya seperti itu. Kemudian, saya cenderung menyukai musik yang mempunyai tempo keras, hip-hop dan rock misalnya. Dan tentunya, saya tetap tidak hapal liriknya dan sering lupa judulnya. Yang ketiga, saya menyukai musik yang aneh, misalnya musik yang terdengar enak dari rusia, arab, maroko, atau daerah afrika yang unik. Itupun sama, saya tak tahu apa kandungannya dan artinya, sekedar enak didengarkan untuk beberapa saat. Dan keempat, musik yang liriknya berkualitas. Lirik berkualitas disini bukan berarti disesuaikan atau dimirip-miripkan dengan suasana hati, tidak begitu. Lirik berkualitas adalah lirik yang kalimatnya tidak simple, tidak eksplisit sekali, dan mengandung rima yang bagus. Sebagai contoh, dalam minggu ini, hanya 1 lagu yang menarik minat saya, Hob Gamed (Stable Love). yang dinyanyikan Jannat, penyanyi dari Maroko, yang sampai posting ini saya tulis, saya tidak tahu liriknya bagaimana, yang jelas ini lagu berbahasa arab dengan dialek yang agak asing bagi telinga saya.

Namun, sesuai dengan tema, saya sudah mempersiapkan list lagu yang nantinya dinyanyikan oleh penyanyi dalam acara di tempat saya. Sepertinya nanti perlu dikompromikan dengan penyanyi karena mungkin list yang saya ajukan, penyanyinya kurang familiar. Juga, saya perlu mereview musik-musik dia, jangan sampai seperti perumpamaan cemilan tadi, terlalu manis, atau rasanya kurang familiar di lidah saya, walaupun sebenarnya tidak saya permasalahkan, asalkan liriknya pas. Sungguh aneh kiranya apabila nantinya penyanyi akan membawakan lagu “Sedih yang tak berujung”, misalnya. Juga, disesuaikan dengan selera tamu, sehingga ada beberapa lagu tradisional juga yang dimasukkan.

Lalu akan dikemanakan lagu-lagu list orisinil saya? Sesuai dengan judul, lagu ini akan saya pakai untuk digabungkan dengan list Chacha, untuk menikmati perjalanan. Karena biasanya, kalau di kereta api atau bus, saya biasa instagraman sendiri atau membaca artikel-artikel. Tentunya menurut saya, ini kurang adanya kegiatan kebersamaan. Jadi, perlu kiranya menyiapkan headset dengan 4 speaker.

Diantara lagu yang saya berharap penyanyi bisa menyanyikan (dengan versi asli ataupun versinya sendiri) adalah:

  1. “I love you” by D’Cinnamons.
  2. “Menikahimu” by Kahitna.
  3. “Takkan Terganti” by Marcell.
  4. “Love Just is” by Hillary Duff
  5. “Thank you for Loving Me”, by Bon Jovi
  6. “The way you look at me”, by Christian Bautista
  7. “You’re Beautiful”, by James Blunt
  8. “True”, by Ryan Cabrera
  9. “From This Moment On”, by Shania Twain
  10. “KKSK (Karena Ku Sayang Kamu”, by Dygta
  11. “Pyramid” by Charice feat Lyaz
  12. “Kau yang Terindah” by Java Jive
  13. “Terima kasih cinta”, by Afgan
  14. “A Brand New Day” by Ten2Five
  15. “Hanya Padamu” by Ten2Five
  16. “Setyo Tuhu”, by Manthous ft Sunyahni

Continue Reading

Memilih Tempat Bulan Madu

Memilih tempat bulan madu, biasanya menjadi salah satu ritual bagi pasangan pengantin baru. Seperti kita ketahui bersama, hal ini yang menganggapnya penting, keharusan, bukan keharusan, hal yang berlebihan, dan berbagai pendapat pribadi lainnya. Namun, tulisan ini tidaklah membahas hal-hal berkenaan dengan pro-kontra pendapat masing-masing itu. Disini, saya hanya menulis, apa yang terjadi dan yang kami pikirkan, tak lebih dari pendapat kami pribadi dan hal-hal umum yang hendak kami bagi.

Menyinggung sedikit tentang pendapat, saya menganggap bulan madu sebagai sebuah kegiatan piknik/tamasya bersama pasangan yang mestinya dilakukan (tak tergantung waktunya, tidak harus setelah selesai acara) untuk melepas penat, merefresh suasana, membahas hal-hal yang kadang terlewat dalam keseharian. Sekedar melakukan perjalanan tanpa berpikir yang berat-berat. Sebuah perjalanan yang bisa dijadikan kenangan, untuk diceritakan ke anak cucu. Begitulah menurut saya. Dikombinasikan kesukaan saya akan sejarah dan politik, saya punya keinginan untuk melakukan Bulan Madu Napak Tilas, yakni bulan madu sambil melakukan perjalanan yang ada catatan sejarahnya.

Bagaimana jika bulan madu napak tilas perjalanan Musa? Saya kira ini sangat spektakuler, namun hampir mustahil karena saya tidak punya mukjizat dari Alloh SWT seperti Musa A.S. dalam membelah laut merah. Disamping juga, perjalanan itu tentulah menghamburkan uang dan berbahaya karena harus melewati Mesir yang sedang konflik pasca kejatuhan Morsi, juga harus lewat Israel-Palestina. Kiranya ini hanya ada dalam khayalan intermesso saya. Sesuatu yang sering terjadi pada saya, switch pada hal-hal yang aneh. Maka, mempertimbangkan berbagai hal, saya terbersit untuk melakukan napak tilas Daendels. Kenapa bukan Jenderal Soedirman? Karena rute Pak Dirman lewat hutan-hutan, bergerilya, jalan kaki, yang dapat mengakibatkan justru capek di jalan. Bagi yang menggemari pelajaran sejarah, saat mendengar Daendels, maka pasti langsung mengasosiasikan dengan Jalan Raya Anyer-Panarukan, dialah yang membangun (walau tidak seluruhnya) Jalan Anyer-Panarukan ini alias Jalan Raya Pos. Didukung pada ulang tahun saya kemarin, Chacha memberikan saya buku berkenaan dengan ini, “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, karya Pramoedya Ananta Toer.

JPOS01

Ini pasti karena saya banyak membahas ini, dan mengeluh tak bisa menemukan bukunya di Toko Buku terkemuka dan tak terkemuka. Rupa-rupanya, dia memesan lewat jalur khusus untuk mendapatkan buku ini. Saya sangat senang membaca buku-buku semacam ini memang. Barangkali, nanti di bagian lain, akan saya posting mengenai cara-cara kami menyikapi buku bacaan. Ini yang menarik menurut pengamatan saya untuk dituliskan.

Kembali pada topik utama, keinginan napak tilas ini agaknya perlu saya undur waktunya. Ketidakmungkinannya lebih disebabkan oleh waktu yang terbatas. Cuti saya terbatas, di sisi lain, perjalanan napak tilas ini memerlukan waktu banyak, waktu cadangan, dan ekstra dari waktu cadangan untuk hal-hal tak terduga. Disamping juga, pastilah ini melelahkan, apalagi jika dieksekusi setelah serangkaian acara. Cukup masuk akal untuk mengundur, dan menggantinya dulu dengan tujuan lain. Saya kemukanan pada Chacha mengenai suatu tujuan yang penuh petualangan, ke suatu tempat yang banyak museum, tempat bersejarah, patung, candi, hal-hal historikal. Nah, lagi-lagi, setelah diskusi dan beberapa pertimbangan, pastilah ini melelahkan, dan kiranya kurang tepat sebagai acara bulan madu. Ini cocok sebagai kegiatan eksploring, yang baiknya dilaksanakan saat benar-benar santai. Tubuh sangat prima, karena memang ada peluang terjadinya tersesat jalan, kendala lokal, dan sebagainya. Alangkah lebih baiknya jika bulan madu itu dilakukan di tempat santai, yang bisa mengurangi kepenatan, mengasingkan dari keramaian sejenak. Karena memang, saya menyukai kesunyian, suasana yang tidak crowded, dan tenang.\

Continue Reading