Ungu Undanganku

PGS dan JMP sepertinya adalah tempat yang wajib dikunjungi oleh para calon pengantin. Kalau ada yang sering check-in Foursquare di salah satu tempat tadi, bisa dipastikan kalau dia mau kawin.

Saya sampai bosan pergi ke sana. Perihal mengantar teman-teman yang mau kawin, sampai membeli kain seragam untuk saudara yang tidak kunjung rampung.

Kemarin saya pergi ke PGS lagi (mudah-mudahan untuk yang terakhir kalinya di tahun ini, Amin) tujuannya adalah mengambil undangan.

Yeiyy! Akhirnya dari semua down payment yang dibayar sudah ada yang memiliki wujud!

P1070358Edit

Begitulah wujudnya.

Nggak heboh karena undangan yang heboh ternyata harganya mahal.

Nggak ada fotonya karena nggak mau muka saya berakhir di tempat sampah.

Undangannya saya pesan di Trikarta, Pusat Grosir Surabaya lantai I. Menurut saya undangan di sana cantik-cantik desainnya dan pengerjaannya cepat. Dijadwalkan undangan saya jadi pada akhir Juli tetapi ternyata akhir Juni kemarin sudah bisa diambil. Kerapian poinnya 7 dari 10. Yaa namanya juga produksi massal. Harganya menurut saya juga sesuai dengan barangnya. Dan yang penting nggak ada salah cetak. Saya sampai ngimpi, di undangan bukan tertulis nama saya dan Pacar melainkan nama pasangan lain.

Saran saya, kalau membeli undangan lebih baik langsung ke percetakannya. Kayak di PGS nih, biasanya kan toko-toko yang jual souvenir tuh menjual undangan juga, nah kata orang-orang lebih murah kalau membeli di percetakannya langsung.

Menurut saya penting juga untuk memilih vendor berdasar pendapat orang. Misalnya, saya tahu Trikarta ini dari teman saya. Dan saya juga pernah dikirimi undangan yang dibuat sama si Trikarta ini. Jadi ya, kita lebih bisa memprediksi seperti apa hasilnya, rapi atau tidaknya.

Last but not least, hal-hal cantik seperti emboss, huruf silver, gold, kertas timbul, bungkus mika, itu menambah biaya. Tuh kan, dimana-mana beauty is pain!

Continue Reading

Eksekusi Pemotretan Prewedding

Tidak saya sangka, ternyata dipotret melelahkan juga. Tapi, mungkin Chacha lebih merasa capek lagi. Bagaimana tidak, dia lebih banyak dimake-up, baju yang lebih ribet, serta gerakan-gerakan yang kompleks apabila memakai busana perempuan.

Hasil foto belum jadi sampai posting ini ditulis. Jadi ceritanya, bisa dikatakan, sesi pengambilan foto ini juga agak mendadak. Sampai h-2, saya ditanya fotografer, “Mas, kapan foto?”. Saya hanya bisa menjawab, “mungkin lusa mas, antara tanggal sekian sampai sekian, soalnya saya belum tahu bisa ke situnya hari apa.” Memang pengambilan foto ini ada di luar kota (Surabaya), bukan kota tempat tinggal saya (Nganjuk). Jadi, saya berkehendak agar ada waktu istirahat setelah perjalanan. Dan setelah pertimbangan dan diskusi ini itu, jadilah kami berangkat menuju kota pemotretan, Surabaya, pada jam dini hari waktu Nganjuk. Menunggu Bus Patas tak kunjung datang, mungkin karena berkaitan kenaikan Bahan Bakar Minyak beberapa waktu sebelumnya, maka kami akhirnya naik Bus Ekonomi terkemuka yang cukup cepat. Walhasil, di dalam kami duduk misah, masing-masing di ujung tempat duduk, karena penduduk sebelumnya sudah tidur. Ini bisa menjadi kenangan sekaligus pelajaran di kemudian hari bahwa memang saya harus memperbaiki sifat-sifat mendadak ini, demi kenyamanan bersama. Untungnya, sampai Jombang, beberapa penumpang turun, dan ada satu deret kosong sehingga kami bisa duduk berdua dan tidur di bus dengan tidak khawatir jatuh. Adik saya, masih bertahan di tempat duduk semula. Dia juga ikut dalam ekspedisi pemotretan karena hendak sekalian berobat dan pada prakteknya, menjadi asisten segala hal selama pemotretan. Jadi, yang capek ada 3 orang, di samping tukang fotonya tentu saja.

Kami sampai Surabaya subuh, sehingga pemotretan (teorinya) bisa dimulai pagi. Pagi-pagi, fotografer dan perias datang, Chacha dirias, dan saya… baru (di)bangun(kan) tidur. Selama Chacha berkutat dengan soft lensenya, periasnya, dan busananya, saya masih mencari sabun saya ada di mana. Yah, saya loading agak lama kalau bangun pagi. Itulah sebabnya, saya sering bekerja malam. Selanjutnya, setelah semua beres, berangkatlah kamu ke lokasi pertama, sebuah hutan Ekowisata Mangrove. Tepat sekali, di Bosem Wonorejo. Kami pilih disini karena udaranya bersih dan banyak nuansa hijaunya dalam kota Surabaya. Detil pemotretan cukup banyak, nanti akan lebih jelas dari hasil-hasilnya. Rencana akan ditampilkan beberapa di hosting ini, sebagian lain hotlink ke flickr. Pemotretan ini terdapat hal-hal cukup unik. Diantaranya, air di hutan bakau ini sedang pasang, ada bagian yang menggenangi jembatan setapak sehingga kami harus lepas sepatu untuk lewat. Ini menimbulkan inspirasi bagi fotografer dalam pengambilan. Bisa jadi, filosofi fotonya adalah, kami bersama dalam keadaan susah maupun senang. Beberapa pose diambil disini, ada yang mudah, ada yang susah, ada juga yang harus menunggu orang pacaran selesai karena tentu saja kita tidak bisa mengusir mereka, “mas mbak, minggir dulu, saya mau potret”. Menunggu yang lama terjadi karena ada mbak-mbak yang tidur di pangkuan kekasihnya, di pinggir setapak, di bawah mangrove, saya tidak habis pikir, kenapa bisa sampai terkantuk-kantuk seperti itu. Tapi bisa jadi juga karena banyaknya oksigen disitu.

Setelah berbagai kuda-kuda dan jurus-jurus foto diambil, kami bermaksud hendak melanjutkan ke suasana building. Pilihan awal adalah ke kompleks perusahaan rokok terkemuka, namun saya ragu karena saya tidak menyukai bau tembakau lama-lama. Pilihan kedua ada di kafe, kamipun menuju ke lokasi. Dan, ternyata, tutup. Ada miskomunikasi memang, namun saya tidak banyak komplain, disamping karena mereka pada sabar, saya juga tidak mau merusak suasana dan mood. Jadi seperti biasa, kita cari solusi mendadak. Setalah mondar-mandir beberapa jalan, diskusi sana-sini selama beberapa waktu. Kamipun menuju suatu kafe yang berbentuk kastil abad pertengahan. Kamipun foto disini. Menurut saya, kastil ini cocok untuk pemotretan yang mendadak, busana dan perlengkapan sudah ada di sini. Banyak yang bisa dilakukan dalam pemotretan, nanti disambung lagi.

Alhamdulillah, satu checklist sudah dilakukan, akan dilanjutkan checklist-checklist selanjutnya.

Continue Reading

Memilih Potret Prewedding

Foto prewedding biasanya tidak terlepas dari hal-hal berpikir. Jadi teringat, jaman kuliah dulu, kawan-kawan pernah membahas pro-kontra mengenai kegiatan ini. Ada yang mempertentangkan dari segi agama, ada yang dari segi budaya, tak lupa juga mempertentangkan dari segi finansial. Saya tidaklah tertarik membahas pro-kontra semacam itu. Foto prewedding menurut saya merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan untuk sebuah dokumentasi bagi anak-cucu kelak, yakni alasan memori-historis. Yang ada di pikiran saya, suatu saat nanti tua, apabila melihat salah satu foto, biasanya akan teringat momen sebelum pengambilan, hal-hal lucu, hal-hal bodoh, atau apapun yang terjadi di sekitar momen itu. Mengingat hal ini, bagi saya bisa memperciki perasaan dengan tambahan bahan bakar api cinta. Atau bisa juga, saat ada pertengkaran, melihat foto ini bisa ibarat sebuah air yang memadamkan api emosi itu. Jadi menurut kami, foto prewedding akan banyak berguna kelak, bukan hanya sekadar alasan-alasan masa kini.

Jadilah kami melakukan beberapa pemilihan terhadap siapa yang akan memotret. Dan… kami bingung awalnya. Harus bagaimana, kepada siapa, yang paket apa, dan banyak pertanyaan-pertanyaan. Ditambah, saya biasanya sangat rewel terhadap para pemberi pruduk jasa. Tapi hal yang saya syukuri, Chacha senantiasa sabar menghadapi kelakuan saya ini. Ya walaupun mungkin ada keselnya :D, karena dalam menghadapi tukang service, saya banyak maunya, dan rewel 😀 Ini karena saya bisa dikatakan juga tukang service, pemberi jasa. Memang, untuk mendapat pelayanan yang baik, kita juga hendaknya menjadi pelanggan yang baik. Namun, tentunya perlu diperhatikan bahwa salah satu sifat pemberi jasa yang harus senantiasa dijunjung adalah sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa. Saya biasanya rewel jika menjumpai ada pemberi jasa yang tidak sabar, apapun bentuknya, bisa judes, jengkel saat saya banyak tanya, atau karena tak sabar karena saya sering bilang, “saya pikir dulu” saat ditawari suatu item jasa. Saya juga rewel saat pemberi jasa tidak jelas dalam bertransaksi, semacam ada yang ditutup-tutupi, atau memberikan suatu hidden price dalam pekerjaannya. Penjelasan yang tidak jelas, biasanya akan saya kejar dengan pertanyaan sampai saya jelas, itu juga kadang membuat pemberi jasa jadi kesal, dan kekesalan dia, membuat saya rewel dan kesal. Satu hal lagi yang kadang terjadi adalah penjual jasa yang mempunyai sifat memaksa atau mendikte. Mungkin pemberi jasa tidak secara literal memaksa, tapi dia seperti mempunyai sifat yang tak sabar yang terejawantah dengan kalimat-kalimat yang mendikte calon pelanggan, semacam memburu-buru, tidak memberi kesempatan berpikir, dan tidak mempunyai kesabaran menunggu. Hal-hal inilah yang biasanya membuat saya tidak jadi memakai jasa suatu pemberi jasa. Tampak rewelnya memang dan mungkin annoying saat waktu terbatas. Namun saya selalu percaya, bahwa masih ada pemberi jasa yang sabar, jelas, ramah, dan tidak memaksa.

Setelah menjelajahi banyak padepokan-padepokan, mengadakan banyak rapat pleno, akhirnya kami mendapatkan orang yang memenuhi kriteria di atas. Hasil-hasilnya akan kami tampilkan disini, dan apabila tukang jasanya berkenan, akan kami pasang juga identitasnya sebagai promosi dan rekemendasi kami pribadi karena sifat-sifat mereka yang baik sebagai pemberi jasa, selain juga kemampuannya yang mumpuni.

Continue Reading

Aksi Folder Rahasia

Screen_20120308_171829 - Copy

Saya adalah orang yang sangat sentimental. Semua hal yang sarat akan muatan sentimental selalu saya simpan (meskipun ujungnya kayak simpan sampah).

Dulu pas jaman PDKT saya kadang meng-screen capture percakapan Blackberry Messenger saya dengan pacar saya. Isinya apalagi kalau bukan gombalan. Kami berdua lempar-lemparan gombal.

Kemudian masalah timbul saat pacar saya (yang waktu itu masih berstatus gebetan) mau ngapelin saya. Wuih. Saya langsung parno campur gengsi. Yaapa nanti kalau dia liat hape saya?

Langsung deh saya copy semua file .jpeg tadi ke laptop. Masih merasa parno, saya samarkan nama foldernya.

Tapi memang benar kata pepatah, bahwa masalah nggak pernah datang sendirian. Saya kemudian lupa nama foldernya apa. Begitu terus sampai setahun berlalu.

Sampai secara nggak sengaja, suatu hari teman saya minta dicopykan sebuah makalah yang pernah saya tulis. Nggetu saya di depan laptop menyisir satu demi satu folder hingga tibalah saya di sebuah folder bernama Periodontitis Apikalis Akut. Setelah dobel klik saya kaget dan langsung senyum-senyum alay.

Disitulah semua file .jpeg sentimental tadi berada.

Haha.. Tetapi hanya image yang paling biodegradable yang saya post. Sisanya bisa menyebabkan sembelit, mual, muntah, kram perut, sampai hipoksia hingga 7 hari 7 malam.

Screen_20120223_232039 - Copy

NB. Dan sampai sekarang kami belum pernah masak tahu kecap bareng. Hhh entahlah inspirasi romantika memasak tahu kecap bersama dulu itu dapat darimana.

 

 

Continue Reading

Setelah Lamaran

Hari Minggu tanggal 26 Mei kemarin saya dan keluarga saya pergi berbondong-bondong ke rumah Pacar saya. Mau nonton bola bareng mbalesin lamaran ceritanya.

Acaranya dadakan sekali. Nah ini susahnya jadi pacar Pacar saya. Selalu pasang status siaga dan waspada. Semacam lagi macarin gunung berapi lah. Mendadak lamaran, mendadak mbalesin lamaran dan mendadak-mendadak lainnya.

Kali ini karena saya adalah pihak tamu, saya nyantai sekali. undangan jam 10, jam setengah 10 baru pegang bedak plus sebentar-sebentar lari ke depan AC cari angin.

DSC_02612

Kata teman-teman saya keliatan cakep di foto, bajunya bagus, dan cara berjilbabnya menunjukkan kemahiran diatas rata-rata.

Yang sebenarnya terjadi adalah kancing baju saya copot satu, rok saya pinjam punya ibu saya, dan saya cuma bisa bikin model jilbab seperti itu saja. Jadi yaa meskipun acaranya banyak, jilbabnya ganti-ganti, modelnya ya cuma itu saja. Dan semalam sebelum acara Tante saya menjahit baju saya biar kelihatan lebih pas dipakai.

Nah kan, semua hal nggak selalu kelihatan seperti yang terlihat.

DSC_0176

Lalu acara berjalan sesuai rencana. Ngapain aja ya? Pihak saya cuma menghaturkan tanggal (yang memang sudah disetujui sebelumnya), perkenalan keluarga (lagi) tapi saya tetep nggak hafal juga, dan ngasihtau kerangka kasar acara pernikahan.

DSC_0190

Setelah itu foto keluarga. Ini foto dengan mayoritas orang terbanyak yang lihat kamera. Maklum lah yaa  ga pake jasa profesional. Acara ndadak kok njaluk slamet hahahaa.. Pokoknya ada, sudah cukup.

DSC_0268

Tuh kan, fokus matanya kemana-mana. Semacam lagi di red carpet lah, banyak fotografernya, lalu bingung mau lihat ke kamera yang mana. *pede*

DSC_0283

DSC_0306

DSC_0051

DSC_0168

Setelah saya capek senyum dan makanan di meja sudah dihabiskan, lalu saya dan keluarga saya pamit pulang.

Acara selesai.

Kesimpulannya, kawin yang baik dan benar itu rempong sekali ternyata. Nggak bisa langsung bilang SAH, mejeng di kuade bentar terus ciao pergi berbulan madu. Sekian dan terimakasih.

Continue Reading

Wedding Playlist

Curhat sedikit dulu ya. Akhir-akhir ini dalam ngurusin pernikahan banyak sekali angan-angan yang saya cita-citakan (beberapa sejak saya masih kecil malah) tidak terealisasi. Di bulan-bulan awal saya sangat idealis. Mau begini dan begitu. Eeh tapi makin ke belakang semangat juang tak lagi 45 rupanya. Akhirnya yang ada malah, “Halah adanya ini, jangan bikin diri sendiri makin repot ah.”

Contohnya nih, yang lagi saya urusin sekarang adalah band. Di balik muka saya yang tegar ini, saya adalah orang yang sangat concern mengenai dunia permusikan pada saat resepsi berlangsung. Mimpi saya muluk-muluk sekali. Yaaa kalau bisa sih, resepsi saya nanti ngundang Maliq & d’essentials. *lalu semesta hening* *lalu tamunya cuma 10 orang karena ga mampu bayar katering* *lalu mantennya cuma self-makeup karena nggak mampu bayar perias*

Lalu mimpi yang muluk sekali tadi turun sejuta level karena Ibu saya minta musik resepsi cuma pakai organ tunggal.

Untungnya setelah saya pasang muka kayak stiker LINE selama beberapa hari, akhirnya Ibu saya menyadari, bahwa pakai band itu lebih keren. Hahaha muka saya langsung sembuh!

Saya dan selera saya yang aneh ini, kepingin banget denger suara saksofon. Tapi ya, gimana lagi ya, namanya juga di desa. Pilihan juga nggak banyak. Dan kalaupun diniatkan untuk mendatangkan band dari Surabaya, pastinya juga nggak murah. Masih banyak yang bisa dibeli lah dengan uang segitu. Beras, minyak goreng, kopi, gula… Sigh kasian banget lah pokoknya saya.

Entah siapa yang bakal disewa nanti, tapi yang jelas saya sudah bikin playlist. Perkara band-nya bisa memainkan atau tidak itu masalah nanti ya. Yang penting ada dulu.

Meskipun cuma buat dibaca aja.

Sigh lagi.

WedPlay

Apa?? Cuma satu? Mana mungkin…

wdpl

Playlist yang saya sendiri pun kalau disodorin bakal nyuruh yang punya hajat buat nyalain mp3 aja deh daripada pakai band.

 
Texture didownload dari http://cloaks.deviantart.com
Continue Reading

Memilih Tempat Bulan Madu

Memilih tempat bulan madu adalah hal yang gampang-gampang susah. Disamping memikirkan hal standar seperti budget dan timing,  tentunya hal yang tak kalah pentingnya adalah mempertimbangkan taste. Seperti halnya pasangan lain, kami adalah dua sosok yang mempunyai kesamaan dan juga perbedaan selera dalam hal menikmati suatu liburan. Sebagai misal, kami sama-sama menyukai museum, namun honeymoon dengan tema tour de museum kiranya adalah hal yang harus direncanakan dengan matang, karena sepanjang saya tahu, sampai saat ini belum ada paket honeymoon semacam itu. Paket bulan madu mainstream kebanyakan adalah kumpulan perjalanan ke pantai, gunung, artificial place (mall, pusat tempat belanja, amusement park), sekedar senang-senang. Walupun memang honeymoon itu identik dengan hal menyenangkan, namun tidak ada salahnya pula jika menambahkan unsur lain dalam haneymoon itu, misalnya petualangan, tantangan, pembelajaran, dan sebagainya. Bisa kita lihat, sangat kurang ada yang menawarkan nilai lebih dalam paket-paket honeymoon, misalnya honeymoon sambil belajar, sambil berpetualang, sambil mengenal seni budaya, sambil meningkatkan rasa nasionalisme berbangsa – bernegara, dan sebagainya. Mungkin hal semacam ini ada di pikiran saya saja :D.

Brosur langka
Brosur langka
Continue Reading

Mendadak Lamaran

Setelah tujuh bulan (lebih sedikit) lamanya kami mengikat tali kasih *uhuk!*, kekasih saya memutuskan untuk menaikkan level kasih kami ke jenjang yang lebih lanjut. Engagement gitulah namanya kalau di luar negeri. Lamaran kalau di Indonesia.

Semua mendadak. Tidak sampai hitungan 7 hari bahkan dari awal pelontaran ide sampai dengan hari H. Akan tetapi untungnya semuanya berjalan lancar dan dihadiri oleh keluarga dekat dari kedua belah pihak.

Persiapannya nggak heboh, tapi yaa heboh juga sih. Sanak saudara mulai dikontak 3 hari sebelum hari H dan untungnyaaa semua menyanggupi untuk hadir.

Kehebohannya timbul akibat kehabisan AC. Iya, karena acara diadakan mendadak, di hari Minggu, pada puncak panas-panasnya daerah khatulistiwa, akibatnya saya nggak kebagian AC. Dan Nganjuk adalah kota kecil dimana untuk menyewa AC bahkan ACnya harus didatangkan dari Jombang atau Surabaya. Saya mulai panik. Wong dasarnya saya ini gampang keringetan yaa.. Lalu dengan diantar kekasih *uhuk!* saya pergi ke Kediri, dimana kemudian saya menemukan bahwa semua AC juga habis disewa. Jreeeeeng.

 

Setelah dipikir-pikir selama 7 turunan dan ketika Ibuk melihat wajah melas saya karena nggak kebagian AC, akhirnya diputuskanlah hari itu untuk membeli AC. Hihihii senang bukan main. Ruang nonton TV rumah saya sekarang ada ACnya.

H-2 suasana rumah mulai mambu hajatan. Rumah mendadak jadi super bersih dan orang-orang pasang muka serius.

Pada H-1 AC dipasang, dibumbui dengan acara mati lampu. Hahaha..

 

Hari H. Pagi-pagi lantai disapu lagi untuk yang kesekian kalinya. Katering mulai datang, juga saudara-saudara. Sementara ibuk bete karena saya belum juga mandi.

Saudara yang datang jauh dari Surabaya lalu makan, saya mulai deh drama, ga bisa nelan makanan. Akhirnya moto-moto sepupu.

Setelah itu suasana jadi terkontrol, semua selesai dandan dan saya (akhirnya) selesai mandi.

Pada saat saya ngasih kode kalau “tamu spesialnya” lagi otw, semua baris diluar rumah. Saya? Disuruh sembunyi sampai dipanggil.

Lalu datanglah orang yang saya taksir setengah mati itu bersama dengan keluarganya. Saya masih sembunyi.

Setelah para hadirin dan hadirot duduk, acara pun dimulai. Saya masih sembunyi.

Kemudian perwakilan tamu mulai saling memperkenalkan member keluarganya masing-masing. Saya masih sembunyi. Ya ampun siapa sih mas-mas batik coklat yang daritadi sadar kamera terus ituuh!

Akhirnya saya keluaaaar. Pegang tisu karena sumuknya mintak ampun. Senyum-senyum alay, ketawa matigaya gitu deeh..

Lalu bapake tes mic dan ngobrol khas bapak-bapak. Setelah deal harga buat lamaran yasudah deh cincin dipasang. Nggak pakai adegan cowok berlutut kayak di impian yaa…belum muhrim katanya.

Dilanjutkan dengan acara senyum alay bersama yang disponsori oleh PDGI Kabupaten  Nganjuk. Iiiiiiiiii…

Lalu semua makan-makan.

Setelah itu para tetamu dari keluarga kekasih saya pulang. Dan para sepupu kembali berebut main skateboard.

Yaah begitulah peristiwa lamaran yang terjadi hanya sekali dalam seumur hidup saya. Asik juga kok ternyata jadi tunangan orang.

Ohya. Adakah yang melihat kejanggalan foto disini? Ya sudah deh kalau nggak ada. Jadi begini ya, endingnya setelah para tamu sudah duduk manis di rumah masing-masing saya baru nyadar. Nggak ada foto berdua antara saya dan kekasih saya. Nggak ada foto pamer cincin. Lupa. Dan juga nggak ada yang ngingetin. Saya curiga orang seruangan itu juga lupa semua kayaknya. Hahahaa..

 

 

Continue Reading

Pangeran Berkuda Putih Saya

Setiap gadis pasti memiliki impian masing-masing tentang seperti apa pasangan hidup mereka nantinya. Dulu, jaman saya SMA, saya sangat termimpi-mimpi oleh tokoh dalam novel trilogi Indiana yang ditulis oleh Clara Ng.

Indiana sebagai tokoh utama adalah seorang pekerja kantoran biasa yang hidupnya berubah menjadi luarbiasasetelah ia berjumpa dengan Francis Marijono. Francis Ellison Marijono lengkapnya.

Bum! Tokoh Francis seketika menjelma menjadi pangeran berkuda putih saya.

Francis yang anak orang kaya, yang seingat saya waktu itu jadi CEO perusahaan multinasional dan namanya seliweran di majalah bisnis, serta bisa mampu mencarter pesawat ke Singapura hanya untuk memberi surprise dinner buat Indiana.

Selain itu?

Sangat kental di bayangan saya Francis yang bertubuh tinggi, ramping, menyesap setidaknya 5 gelas kopi sehari, berkemeja sejak saat ia selesai mandi pagi sampai mau tidur malam, wangi parfum mahal, dan pastilah perutnya sixpack.

Ada lagi?

Francis yang romantis. Buktinya? Trilogi Indiana diakhiri dengan Francis menyusul Indiana ke Bali. Saat senja ia berlutut dengan satu kaki di tepi pantai saat matahari mulai terbenam dan melamar Indiana. Ha! Siapa coba yang tidak mau dibegitukan?

Sejak saat itu saya memutuskan untuk menjadikan Francis sebagai impian saya.

Tahun berganti, tapi saya tak kunjung bertransformasi jadi cewek super cakep buat bisa menarik hati pria selevel Francis.

Lalu? Apa yang terjadi berikutnya?

Yang terjadi selanjutnya adalah rencana Tuhan.

Bukan Francis, tapi Ade Bayu.

Ade Bayu yang jangankan necis, pakai kemeja saja menunggu kalau mau ketemu calon mertua. Bahkan melamar saya di tepi pantai pasti sama sekali nggak akan terlintas di pikirannya seumur hidupnya.

Kecewa kah saya? Tidak sama sekali.

Mungkin dia nggak seindah Francis, tapi dia salah satu dari sekian hal yang terbaik yang pernah terjadi pada saya.

Dan percaya atau tidak, tadi sore saat tengah menyopir dan terjebak macet saya menyadari. Jarak antara dirinya dan Francis tidak terpaut sangat jauh. Dari 3 paragraf diatas mengenai hal-hal yang membuat saya jatuh terpesona pada Francis, setidaknya 7 hal saya temukan di pacar saya.

Setelah tujuh?

Begini. Dia nyata, meskipun nggak bisa ditemui setiap hari. Bukan fiktif. Dia akan dan selalu ada untuk saya. Itu cukup bagi saya untuk mengungguli deskripsi tiga paragraf mengenai Francis.

Jadi mau apa lagi saya? ~

Continue Reading