Setelah Lamaran

Hari Minggu tanggal 26 Mei kemarin saya dan keluarga saya pergi berbondong-bondong ke rumah Pacar saya. Mau nonton bola bareng mbalesin lamaran ceritanya.

Acaranya dadakan sekali. Nah ini susahnya jadi pacar Pacar saya. Selalu pasang status siaga dan waspada. Semacam lagi macarin gunung berapi lah. Mendadak lamaran, mendadak mbalesin lamaran dan mendadak-mendadak lainnya.

Kali ini karena saya adalah pihak tamu, saya nyantai sekali. undangan jam 10, jam setengah 10 baru pegang bedak plus sebentar-sebentar lari ke depan AC cari angin.

DSC_02612

Kata teman-teman saya keliatan cakep di foto, bajunya bagus, dan cara berjilbabnya menunjukkan kemahiran diatas rata-rata.

Yang sebenarnya terjadi adalah kancing baju saya copot satu, rok saya pinjam punya ibu saya, dan saya cuma bisa bikin model jilbab seperti itu saja. Jadi yaa meskipun acaranya banyak, jilbabnya ganti-ganti, modelnya ya cuma itu saja. Dan semalam sebelum acara Tante saya menjahit baju saya biar kelihatan lebih pas dipakai.

Nah kan, semua hal nggak selalu kelihatan seperti yang terlihat.

DSC_0176

Lalu acara berjalan sesuai rencana. Ngapain aja ya? Pihak saya cuma menghaturkan tanggal (yang memang sudah disetujui sebelumnya), perkenalan keluarga (lagi) tapi saya tetep nggak hafal juga, dan ngasihtau kerangka kasar acara pernikahan.

DSC_0190

Setelah itu foto keluarga. Ini foto dengan mayoritas orang terbanyak yang lihat kamera. Maklum lah yaa  ga pake jasa profesional. Acara ndadak kok njaluk slamet hahahaa.. Pokoknya ada, sudah cukup.

DSC_0268

Tuh kan, fokus matanya kemana-mana. Semacam lagi di red carpet lah, banyak fotografernya, lalu bingung mau lihat ke kamera yang mana. *pede*

DSC_0283

DSC_0306

DSC_0051

DSC_0168

Setelah saya capek senyum dan makanan di meja sudah dihabiskan, lalu saya dan keluarga saya pamit pulang.

Acara selesai.

Kesimpulannya, kawin yang baik dan benar itu rempong sekali ternyata. Nggak bisa langsung bilang SAH, mejeng di kuade bentar terus ciao pergi berbulan madu. Sekian dan terimakasih.

Continue Reading

Mendadak Lamaran

Setelah tujuh bulan (lebih sedikit) lamanya kami mengikat tali kasih *uhuk!*, kekasih saya memutuskan untuk menaikkan level kasih kami ke jenjang yang lebih lanjut. Engagement gitulah namanya kalau di luar negeri. Lamaran kalau di Indonesia.

Semua mendadak. Tidak sampai hitungan 7 hari bahkan dari awal pelontaran ide sampai dengan hari H. Akan tetapi untungnya semuanya berjalan lancar dan dihadiri oleh keluarga dekat dari kedua belah pihak.

Persiapannya nggak heboh, tapi yaa heboh juga sih. Sanak saudara mulai dikontak 3 hari sebelum hari H dan untungnyaaa semua menyanggupi untuk hadir.

Kehebohannya timbul akibat kehabisan AC. Iya, karena acara diadakan mendadak, di hari Minggu, pada puncak panas-panasnya daerah khatulistiwa, akibatnya saya nggak kebagian AC. Dan Nganjuk adalah kota kecil dimana untuk menyewa AC bahkan ACnya harus didatangkan dari Jombang atau Surabaya. Saya mulai panik. Wong dasarnya saya ini gampang keringetan yaa.. Lalu dengan diantar kekasih *uhuk!* saya pergi ke Kediri, dimana kemudian saya menemukan bahwa semua AC juga habis disewa. Jreeeeeng.

 

Setelah dipikir-pikir selama 7 turunan dan ketika Ibuk melihat wajah melas saya karena nggak kebagian AC, akhirnya diputuskanlah hari itu untuk membeli AC. Hihihii senang bukan main. Ruang nonton TV rumah saya sekarang ada ACnya.

H-2 suasana rumah mulai mambu hajatan. Rumah mendadak jadi super bersih dan orang-orang pasang muka serius.

Pada H-1 AC dipasang, dibumbui dengan acara mati lampu. Hahaha..

 

Hari H. Pagi-pagi lantai disapu lagi untuk yang kesekian kalinya. Katering mulai datang, juga saudara-saudara. Sementara ibuk bete karena saya belum juga mandi.

Saudara yang datang jauh dari Surabaya lalu makan, saya mulai deh drama, ga bisa nelan makanan. Akhirnya moto-moto sepupu.

Setelah itu suasana jadi terkontrol, semua selesai dandan dan saya (akhirnya) selesai mandi.

Pada saat saya ngasih kode kalau “tamu spesialnya” lagi otw, semua baris diluar rumah. Saya? Disuruh sembunyi sampai dipanggil.

Lalu datanglah orang yang saya taksir setengah mati itu bersama dengan keluarganya. Saya masih sembunyi.

Setelah para hadirin dan hadirot duduk, acara pun dimulai. Saya masih sembunyi.

Kemudian perwakilan tamu mulai saling memperkenalkan member keluarganya masing-masing. Saya masih sembunyi. Ya ampun siapa sih mas-mas batik coklat yang daritadi sadar kamera terus ituuh!

Akhirnya saya keluaaaar. Pegang tisu karena sumuknya mintak ampun. Senyum-senyum alay, ketawa matigaya gitu deeh..

Lalu bapake tes mic dan ngobrol khas bapak-bapak. Setelah deal harga buat lamaran yasudah deh cincin dipasang. Nggak pakai adegan cowok berlutut kayak di impian yaa…belum muhrim katanya.

Dilanjutkan dengan acara senyum alay bersama yang disponsori oleh PDGI Kabupaten  Nganjuk. Iiiiiiiiii…

Lalu semua makan-makan.

Setelah itu para tetamu dari keluarga kekasih saya pulang. Dan para sepupu kembali berebut main skateboard.

Yaah begitulah peristiwa lamaran yang terjadi hanya sekali dalam seumur hidup saya. Asik juga kok ternyata jadi tunangan orang.

Ohya. Adakah yang melihat kejanggalan foto disini? Ya sudah deh kalau nggak ada. Jadi begini ya, endingnya setelah para tamu sudah duduk manis di rumah masing-masing saya baru nyadar. Nggak ada foto berdua antara saya dan kekasih saya. Nggak ada foto pamer cincin. Lupa. Dan juga nggak ada yang ngingetin. Saya curiga orang seruangan itu juga lupa semua kayaknya. Hahahaa..

 

 

Continue Reading