Tiga Hari Menjelang

Sejarah mencatat, tiga hari sebelum (H-3) proklamasi kemerdekaan, Soekarno-Hatta bersama Radjiman Wediodiningrat dalam kapasitasnya sebagai ketua-wakil PPKI dan BPUPKI sebelumnya, baru saja tiba mendarat di Jakarta dari Dallat, selatan Saigon, Vietnam, dari misinya bertemu Marsekal Terauchi Hisaichi, Panglima Perang Jepang wilayah Asia Tenggara untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Perjalanan ini ada halangan karena Singapura dibom sekutu sehingga mereka memutar rute lewat Taipan di Malaya, namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ini benar-benar mirip dengan kegiatan kami hari ini. Pada H-3, Saya-Chacha bersama Pak Lukman (dalam kapasitasnya sebagai Kepala Urusan Agama a.k.a Modin) baru saja bertemu Panglima, maksud saya, Ketua KUA wilayah Nganjuk Pusat untuk melakukan Suscatin (Kursus Calon Pengantin). Ini adalah kursus yang diwajibkan Ketua bagi calon pengantin atau oengantin baru. kursus ini bisa diambil sebelum akad ataupun setelah akad, tergantung situasi dan kondisi yang berkaitan. Halangan dialami pak Lukman, karena beliau lupa membawa piagam tanda keikutsertaan kami dalam kursus ini. Namun alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Ada lagi, saya yang baru kembali dari lautan, terbiasa bekerja shift malam, tadi susah bangun pagi, alarm masih terset waktu bagian Indonesia lain, sehingga, tidak seperti kebanyakan pasangan, justru saya yang dijemput Chacha. Dia memang tahu kebiasaan saya, kesulitan saya, hal ini membuat saya bersyukur. Walaupun saya sadari, tentunya saya mesti tidak kebluk seperti ini terus, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Walaupun saya sadari juga, Chacha tidak pernah mengeluhkan kejelekan sifat saya, she has a pure heart for me. Aaaa, saya jadi berlinang nulis ini.
H-3 biasanya kesibukan-kesibukan mulai dapat dilihat oleh sekitar dalam pengamatan. Seperti sejarah mencatat bahwa selama H-3 sampai hari H proklamasi pun banyak peristiwa-peristiwa yang diingat oleh pelajar-pelajar seantero Nusantara. Tak dapat dipungkiri, biasanya tampak melelahkan dan menegangkan, walaupun bagi pelakunya senang-senang dan tenang-tenang saja. Analoginya adalah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh sekelompok golongan muda, terkesan ini adalah tindakan kriminal karena kata “penculikan” tadi. Namun pada dasarnya itu hanyalah mengajak Soekarno-Hatta ke tempat yang lebih tidak hiruk pikuk agar bisa diskusi. Ini semacam kami ngenet, ke salon, santai-santai main game sekedar merilekskan diri.

Kegiatan hari tadi yang menjadi fokus adalah Suscatin. Sebenarnya, ini adalah khusus bersama yang diadakan sebulan sekali, namun karena saya saat kursus ke kemarin sedang diasingkan di Boven Digul bekerja di lautan, maka kami menyusulnya dengan mengadakan Suscatin Khusus, semacam les privat, tidak ramai-ramai. Kami mendapat modul seukuran buku saku yang berisi aspek-aspek dasar perkawinan, dasar hukum, doa-doa, prosedur singkat administrasi, dan kasus KDRT (gambar buku mungkin menyusul). Isi lengkapnya bisa kita baca di situs KUA manapun. Barusan saya browsing, banyak KUA Kecamatan mulai membuat blog. Ini sangat membantu untuk memberikan informasi bagi kaula muda.
Ada juga curhat-curhat pegawai KUA dan kejadian unik disana yang barangkali akan saya share lain waktu. Posting kali ini juga untuk mencoba post dari aplikasi perangkat bergerak.

You may also like

3 Comments

    1. Ya masak ingus to Yaaang -_____-
      Tatata ti amo, I love you ❤
      Tahu motto Kabupaten Boven Digul? Nup Bagen Ngup Bagenep 😉

Leave a Reply to Chacha Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *